Rabu, 07 Oktober 2009
SIKAT GIGI
Minggu, 27 September 2009
Rabu, 29 Juli 2009

Dalam sebuah senggang malam ini,
kuajak lamunku berandai sesekali.
Kalaupun harus aku kehilangan dirimu,
kuharapkan saja kau pergi hanya dalam sebuah permainan singkat cari mencari.
Sesingkat kau bersembunyi di balik badan pintu kamarmu.
Yang satu menit kuberikan kau waktu untuk pergi,
agar sesegera aku dapat lari mencari.
Bukan dalam sebuah jarak waktu yang panjang.
Tidak untuk seminggu waktu tamasya yang lama.
Untuk sesingkat kumemejamkan mataku,
lebih-lebih itu yang kubayangkan untukmu.
Sesingkat refleks kedip manusia biasa sepertiku.
Dalam hitungan detik, atau bahkan miliperdetik hidupku.
Karena untuk menghilangnyamu,
aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya hampaku.
untuk kau yang sesaat tak ada bagiku.
Kamis, 23 Juli 2009

Doakan aku, ayahku.
Doakan anakmu ini yang bukan siapa-siapa.
Mengucap sajak diantara kawanan orang.
Menuntut hak delman yang mangkrak di garasi tua,
yang ingat kududuki saat masa kanak
menemanimu main ke kota.
Sekarang, delman itu sudah tak istimewa.
Sudah keriput dan menua wajahnya.
Tak pernah dinaiki anak-anak,
yang sekedar main ataupun minta diantar pulang.
Delman itu menanti dipoles ulang dengan ramuan tuannya,
agar tulang menjadi tak rapuh dan sendinya melaju gagah
mengantar semua ayah bersama anaknya main ke kota.
Kusirnyapun semakin tua.
Duduk di beranda gubuk desa.
Main seruling sambil menawari burung gereja
untuk cicipi padi di atas kulit tipis telapak tangannya.
Kudanya sakit manja.
Tangannya melipat manis ke depan,
dengan mata tertutup besi
mencoba berkedip menggoda delman tua.
Besinya goyang-goyang,
berharap delman melihat gerak centilnya.
Delman hanya tersenyum simpul,
katanya harus sabar menunggu anak-anak datang.
Biarkan sajakku menari di depan kawanan anak,
mengajaknya datang membesuk delman tua.
Menghibur bersama agar ketawa,
dan diantarnya mereka hari minggu ke kota.
Biar sampai mulut berbusa,
asal aku dan sajak dapat menggiring delman keluar
menyapa ayah dan anak main bersama.
Tuk tik tak tik tuk..
Suara sepatu kuda.
Selamat untuk semua anak di Indonesia.
Selamat merayakan hari besarmu, di hari anak nasional.
Rayakan dengan nyanyian seperti ayahmu dulu mengajarkanmu,
bukan lagu yang (belum) wajar kau dendang sendiri untukmu.
Minggu, 19 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009

Sedari beberapa hari lalu, saya dibawa dalam sebuah aktivitas yang cukup padat - terlibat dalam sebuah pameran sekolah musik milik kawan saya; sebuah aktivitas yang sangat menguntungkan di tengah jenuh sela liburan panjang ini. Beberapa kawan lain juga ikut berpartisipasi didalamnya.
Usaha ini sendiri telah dibangunnya semenjak empat tahun lalu, dan bagi saya hal ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang sangat matang dalam pembangunan masa depan keluarga mereka. Tepatnya, esok hari sang istri akan memberikannya keturunan. Memang, kelahiran anak pertama mereka ini dijadwalkan dalam sebuah operasi cesar.
Minggu, 28 Juni 2009

Minggu-minggu terlewati dengan begitu mengesankan. Setidaknya, banyak pelajaran teramat penting dari bocah seumuran mereka yang telah saya dapatkan. Kepolosan, keceriaan, ketulusan, serta kesetiaan. Melihat senyuman mereka merekah setiap minggunya, mewarnai pengalaman baru saya ini.
***
Rabu, 08 April 2009

Saya ingin ikut dalam pesta. Pesta yang dalam hitungan jam akan segera bergeming, dan nyala semangatnya telah melesat di ujung telinga saya. Menjelang berkesempatan untuk memilih secara bebas dalam periode kepemimpinan baru di Indonesia, saya dibuat kecewa luar biasa ketika mendapati nama saya absen dari serentetan daftar nama pemilih dalam pemilu esok hari. Nama saya seakan terhapuskan dengan rapi: TIDAK ADA KESEMPATAN UNTUK MEMILIH; TIDAK ADA KESEMPATAN BERPESTA, BERDEMOKRASI.
Saya tidak sok suci ingin berdiri seakan dapat menjadi orang nomor satu yang peduli pada negri ini, yang sok ingin memilih dan menganggap satu suara yang saya genggam dapat membawa perubahan. Saya hanya ingin memastikan bahwa telinga saya masih sangat amat berfungsi, dengan seluruh saraf ruet di dalamnya yang masih terhubung dengan saraf lain kesadaran saya bahwa ada sesuatu yang salah, yang tak beres dalam sebuah pesta tuan rumah ini yang hanya dapat dirasakan beberapa tahun sekali visitasinya.
Senin, 16 Maret 2009
Kau datang pada siangku,
ketika hari dan dirimu kusebut: minggu.
Kau minggu yang abnormal untukku.
Kita yang duduk selingkar dengan sebulat donat
dan segelas segar teh hijau.
Sesekali bermain tawa kecil,
sesekali beradu senyum.
Kau minggu yang penuh nada untukku.
Kau minggu yang manis dan tak sepi,
minggu yang membuka telinga
dari keramaian pikiranku.
Kau menyambung nyawaku hari itu.
Hampir saja aku tertidur berdiri ditengah jalan
yang mungkin akan menjadi hal teraneh bagi semua orang.
Namun kau yang menyambung setiap detik sarafku,
yang membuat pelipit mataku terbuka tetap
dan tertawa bersamamu.
Seringkali kau berbohong padaku
yang tak berkata lelah sekalipun,
hingga kumendapatimu menguap di depanku.
Kau minggu yang kucari selama ini.
Minggu yang tak hanya merayakan istirahat seminggu lelahku.
Kau minggu sebelum sabtu yang tertunggu
di depan hari yang hampir menjengukku.
Kau yang kusebut dengan: minggu.
Maukah kau membuat
seninku, selasaku, rabu, kamis, jumat dan sabtuku
seperti mingguku ini?
Aku ingin duduk,
dan tersimpul manis denganmu.
Catatan di sebuah minggu bersamamu
Rabu, 11 Maret 2009
Hari-hari ini terasa aneh bagiku.
Meminum teh di pagi hari tanpamu,
dan menghabiskan makan malam bersama tanpamu.
Begitu bodohnya aku mengijinkan keegoanku ada untuk membencimu.
Merasa aku adalah nomor satu yang tahu akan kebenaran.
Kemana kau pergi?
Jangan berpetualang terlalu jauh.
Aku takut kau jatuh dan terluka.
Tersadarnya aku sekarang.
Yang tak pernah merasa mempunyai saat kau ada.
Tersadar aku akan nina bobo yang menemaniku setiap malam,
yang bukan hanya nyanyian hari di telingaku
namun keberadaanmu di depanku.
Saat kau tak pulang malam ini,
gelisah memarahiku di tengah ringkup sedihku.
Serasa aku tak punya hati untukmu.
Tak punya cukup waktu untuk mengertimu,
di tengah masalah yang menemanimu.
Bolehkah maaf itu ada menghampirimu saat ini?
Pulanglah ke rumah,
aku tunggu malam ini.
Suara hati yang terdalam
11 Maret 2009, 21.36
Senin, 16 Februari 2009
Di dalam sebuah perjalanan bermil-mil jauhnya yang tak terhitung oleh mata,
yang berpetak-petak sawahnya terbentang
dan beribu tegak pohon bergerak menyentuh langit,
Di luar jendela kendaraan liburan ini
langit yang kuintip tetaplah sama.
Sebuah lingkaran bulan kecil yang ada di atas atap rumah
yang awannya berlari kecil mengelilinginya,
yang sinarnya meneduhkan mata,
menggelitik tanganku untuk meraihnya.
Dan mungkin di tempat bermil-mil jauh disana
di sebuah kendaraan liburan lain,
lingkaran bulan kecil itulah yang dilihatnya
yang tak berubah jauh arahnya,
yang tak lebih redup sinarnya
dan goyah roda kendaraanpun tak menggesernya.
Dan di sini,
takkan ku rayu orang di belahan bumi manapun
untuk sebuah bulan di atas kepala untuk diberi
karena bulan yang sudah ada untuknya,
yang selalu adil terbagi
dan tak sedikitpun luput dari langitnya.
Caruban, 8 Februari 2009 | 23:53 WIB
Gambar diambil dari www-aos.eps.s.u-tokyo.ac.jp/
Minggu, 04 Januari 2009
Reuni semalam membawa saya pada
sebuah pertemuan pendek dengan kezia.
Kezia.
Perempuan lugu itu sudah gede ternyata.
Sudah bisa pakai sepatu tinggi,
menari disko kecilpun lincah.
Kabarnya, sudah tunangan dengan lelaki impiannya.
Pulangnya pun malam-malam.
Sudah bisa cari duit berdua ternyata. Mau kawin.
“Oh, pantas.”
Kemarin saya lihat dia main-main di ujung perumahan.
Di dekatnya ada tiang listrik berkabel ruet.
Tanpa alas kaki, ia mencoba menarik tubuhnya ke atas.
Sepertinya licin.
“Kez, nggak pakai tangga?”
Nanti saja, belum beli.
“Kenapa?”
Mahal. Cari duit dulu.
Dan Keziapun terjatuh.
Naik lagi.
Jatuh lagi dan berdarah (kali ini).
Kezia terbangun. Oh, ternyata mimpi.
Dilihatnyalah sebuah tulisan di seberang ranjangnya.
Merah menyala tertulis dari gincu.
“KEZ, HATI-HATI KESETRUM!”
Dan kecup bibir mengakhiri pesan itu.

***
Sabtu, 03 Januari 2009
Tiga puluh satu Desember pagi saat terbangun, saya menulis pada sebuah buku yang baru saja saya beli. Menulis apapun yang saya rasakan sewaktu saya terbangun di pagi hari, dengan sebuah harapan saya akan menulis sebuah mantra harian yang spontan dan dapat menjadi penuntun saya dari hari ke hari. Dan bergeraklah saya menuju nakas tumpuk di seberang kasur sana, dan menyahut buku bertuliskan Enjoy your holiday itu.
Singkat kata, tulisan dengan hanya berisikan beberapa baris itu saya sudahi. Pada ujung kertas tersebut –sambil melihat kalender di atas nakas– saya akhiri dengan menulis jam dan tanggal hari itu.
Pk. 09.24, 31 Desember 2008
Di hari pertama aku memutuskan untuk melupakannya.




