Siang yang dingin. Seorang pria yang marah. Hentakan meja dan pukulan keras. Piring pecah. Teriakan yang memekik telinga. Begitu terekam jelas dalam benak saya hingga saat ini, siang yang mengubah segalanya. Segalanya mengenai konsep gender yang dijelaskan panjang lebar oleh guru sekolah; siapa, seperti apa, bagaimana, dan peran apa seorang perempuan/wanita itu. Ya, adegan yang tak asing dalam sebuah rumah tangga. Namun, siang itu berbeda. Bukan perkelahian yang biasa. Lemparan piring, pukulan, tangkisan, meja yang terbuang jauh, dan teriakan yang keras menjadi penanda berakhirnya kepercayaan saya terhadap seorang Ayah (kala itu), ketika menyaksikan tindakan yang tak selayaknya terlihat oleh seorang anak. Rasa takut dan keinginan untuk pulang –saat kebingungan menyamarkan sebuah rumah yang tak terasa lagi seperti rumah (untukmu).
Saat itu juga, terlihat sesosok wanita yang tangguh dan tak mau dilawan. Pukulan yang dibalas dengan tangkisan. Bukan seorang wanita yang didorong lalu jatuh ke lantai. Tetapi yang terdorong dan meneriakkan keras pembelaan. Keanggkuhan pria yang dibalas dengan uraian air mata. Bukan air mata ketakberdayaan, namun meneriakkan kebebasan dengan kelembutan seorang wanita.
Sejak siang itu, semua berubah. Wanita yang saya kenal, bukan wanita yang seperti Ismail Marzuki tulis, “..ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu.”.


