
Minggu, menjadi hari yang paling saya nantikan akhir-akhir ini. Berkesempatan melihat gelak tawa dan lari kecil para bocah lugu nan lincah dalam rumah ibadah saya, adalah hal yang terindu.
Selama empat minggu ini saya telah tergabung dalam staf pengajar kebaktian anak-anak di gereja saya. Begitu antusiasnya saya akan kesempatan ini -yang dengan ketidaksengajaan datang, dan pada saat yang tepat mendapatkan ruang di hati saya. Selamat datang anak-anak, dan selamat datang bagi saya.
Minggu-minggu terlewati dengan begitu mengesankan. Setidaknya, banyak pelajaran teramat penting dari bocah seumuran mereka yang telah saya dapatkan. Kepolosan, keceriaan, ketulusan, serta kesetiaan. Melihat senyuman mereka merekah setiap minggunya, mewarnai pengalaman baru saya ini.
***
Bercermin pada kejadian duduk, dan mendengar ajaran agama yang mereka rasakan setiap minggu itu, mengembalikan saya pada perspektif masa kecil yang tak jauh berbeda dan tetap sama.
Saya tahu benar bagaimana agama itu telah ada bersama saya dan begitu melekat sejak dini. Agama yang dengan mentah saya terima, tanpa bertanya pada ayah: seperti apa agama ini? Bila saya bertanyapun, toh bocah kecil seumuran saya sewaktu itu masih belum dapat mencernanya dengan baik. Mungkin karena hal itu agama hanya menjadi label yang dibiarkan menggelayur begitu saja, bahkan mungkin tanpa kita tahu banyak dan benar.
Hal yang jelas terpatri dan melekat dalam diri saya hingga saat ini adalah eksistensi bahwa Tuhan itu sungguh ada. Dan semata-mata untuk memastikan kebenarannya, guru saya selalu berkata: bahkan ia sangat mengasihimu. Sangat klise memang, tapi begitulah adanya kita, yang semasa kecil memiliki kemampuan terbatas dan hanya diarahkan dan dituntut untuk memiliki mata iman, bahwa itulah kebenaran yang ada –tanpa tahu.
Minggu-minggu terlewati dengan begitu mengesankan. Setidaknya, banyak pelajaran teramat penting dari bocah seumuran mereka yang telah saya dapatkan. Kepolosan, keceriaan, ketulusan, serta kesetiaan. Melihat senyuman mereka merekah setiap minggunya, mewarnai pengalaman baru saya ini.
***
Bercermin pada kejadian duduk, dan mendengar ajaran agama yang mereka rasakan setiap minggu itu, mengembalikan saya pada perspektif masa kecil yang tak jauh berbeda dan tetap sama.
Saya tahu benar bagaimana agama itu telah ada bersama saya dan begitu melekat sejak dini. Agama yang dengan mentah saya terima, tanpa bertanya pada ayah: seperti apa agama ini? Bila saya bertanyapun, toh bocah kecil seumuran saya sewaktu itu masih belum dapat mencernanya dengan baik. Mungkin karena hal itu agama hanya menjadi label yang dibiarkan menggelayur begitu saja, bahkan mungkin tanpa kita tahu banyak dan benar.
Hal yang jelas terpatri dan melekat dalam diri saya hingga saat ini adalah eksistensi bahwa Tuhan itu sungguh ada. Dan semata-mata untuk memastikan kebenarannya, guru saya selalu berkata: bahkan ia sangat mengasihimu. Sangat klise memang, tapi begitulah adanya kita, yang semasa kecil memiliki kemampuan terbatas dan hanya diarahkan dan dituntut untuk memiliki mata iman, bahwa itulah kebenaran yang ada –tanpa tahu.
Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki. Manusia tidak berhenti pada satu titik, melainkan berjalan searah dengan keyakinannya. Agama, menjadi salah satu tantangan bagi kita -yang merasa dengan kematangan usianya masing-masing- siap untuk menanggalkan label yang tergantung begitu saja, mungkin oleh orang tua atau bahkan orang tua asuh sekalipun.
Apakah Tuhan benar ada?
Masihkah kita akan terus duduk manis dan hanya mendengar pemberitaan dalam sebuah ibadah keagamaan, dengan segala kenyamanan zona kita, dan hanya mengandalkan asal tahu? Menjawabnya dengan kalimat basi: ya, karena itu yang tertulis dalam kitab kepercayaan saya.
Bukan berarti kita harus pergi menanggalkan apa yang kita percaya selama ini. Apa yang telah diberikan hanya akan menjadi makanan siap saji yang segera basi. Atau karena sesegera kita memakannya, namun kita tak pernah tahu atau bahkan tak mau tahu, nutrisi yang terkandung di dalamnya. Menyehatkankah? Atau sama sekali berkebalikan?
Keputusan untuk menanggalkan, bukan sebuah keputusan spontan yang muncul tiba-tiba. Keputusan yang bagi saya memiliki definisi waktu yang cukup lama, untuk benar-benar dapat merasakan dari dalam kejauhan hati. Apakah benar yang dikatakan kitab kepercayaan saya adalah bukan kata-kata hikmat yang meyakinkan? Melainkan keyakinan akan sebuah kekuatan magis di dalamnya, dan tak dapat dijabarkan panjang lebar atau bahkan satu kalimat sekalipun.
***
Maukah anda berteduh bukan di bawah payung milik orang lain? Bukankah sewaktu nanti, kau akan memerlukan payung bagi dirimu sendiri? Karena hujan yang semakin deras, dan payung mereka takkan cukup untuk menahan sesakmu. Kembalikan payung itu sekarang, dan cari payungmu sendiri. Mungkin dengan begitu, kau akan mengerti bagaimana berada dalam teduhnya dengan menggenggamnya sendiri, dan merasa dekat tanpa terganggu.
2 komentar:
baguss.. ga bosen2 bacanya.. nice song anyway.. hmm.. two thumbs up^^.. must publish ur owrn writing.. ok2.. ^^
in His love & mine,
u know who i am..
Thanks a lot *heart* :-) I know who you are.
Posting Komentar