MENANTI PESTA

Saya ingin ikut dalam pesta. Pesta yang dalam hitungan jam akan segera bergeming, dan nyala semangatnya telah melesat di ujung telinga saya. Menjelang berkesempatan untuk memilih secara bebas dalam periode kepemimpinan baru di Indonesia, saya dibuat kecewa luar biasa ketika mendapati nama saya absen dari serentetan daftar nama pemilih dalam pemilu esok hari. Nama saya seakan terhapuskan dengan rapi: TIDAK ADA KESEMPATAN UNTUK MEMILIH; TIDAK ADA KESEMPATAN BERPESTA, BERDEMOKRASI.
Saya tidak sok suci ingin berdiri seakan dapat menjadi orang nomor satu yang peduli pada negri ini, yang sok ingin memilih dan menganggap satu suara yang saya genggam dapat membawa perubahan. Saya hanya ingin memastikan bahwa telinga saya masih sangat amat berfungsi, dengan seluruh saraf ruet di dalamnya yang masih terhubung dengan saraf lain kesadaran saya bahwa ada sesuatu yang salah, yang tak beres dalam sebuah pesta tuan rumah ini yang hanya dapat dirasakan beberapa tahun sekali visitasinya.
Suatu kehormatan bagi saya ketika dapat berkeluh tentang sistem demokrasi yang masih nyandet, tanpa kepekaan yang jelas dari atas, yang menganggap semuanya lancar, lancar dan lancar. Dengan bermodalkan berlembar-lembar kertas bernilai tinggi -yang membutakan banyak mata para tetua hingga hijau keruh tak abu- dengan seperangkat keyakinan bahwa kekuatan magis barang itulah yang akan merobot gerak kerja sebuah sistem dengan nama: ATURAN. Untuk sebuah kesatuan negara yang sudah cukup berusia, pastinya ini bukan sebuah bahan eksperimental lagi kan?
Berikan saya jeda untuk sesekali bersuara, walau sekarang hanya bersua: ya, sudah mau bagaimana. Saya tidak ingin ada 'ya sudah, ya sudah' yang lain. Bukan menyoal 'ya sudah' yang berkonotasi: sangat merelakan. Lebih dari itu, keinginan yang besar untuk ingin ikut berpesta bersama, dalam bahagia yang tak dirasakan (mungkin) dalam sebuah pesta ulang tahun saat kecil dulu dengan seorang penghibur: badut.
Tidak ada badut yang ingin saya cari disana, tetapi senyuman seliwer orang yang datang menyokong indonesia dengan sejumput keyakinan akan perubahan dan dengan sekuat pikiran serta gerak tangan mereka saat menandai salah seorang yang tak unggul, tapi dapat dipercaya untuk konsistensinya dalam berdiri menjaga, bukan duduk melamun.
***
Selamat berpesta untuk semua yang terundang. Selamat berbahagia untuk sehari yang tertunggu sedari lama. Dan selamat berjuang untuk yang berdiam menunggu pesta, demi sebuah undangan yang telah tertulis tapi tak terkirim. Cukup berdoa, semoga tak salah alamat.
Gambar di ambil dari: http://www.ishr.org/?id=839

Saya ingin ikut dalam pesta. Pesta yang dalam hitungan jam akan segera bergeming, dan nyala semangatnya telah melesat di ujung telinga saya. Menjelang berkesempatan untuk memilih secara bebas dalam periode kepemimpinan baru di Indonesia, saya dibuat kecewa luar biasa ketika mendapati nama saya absen dari serentetan daftar nama pemilih dalam pemilu esok hari. Nama saya seakan terhapuskan dengan rapi: TIDAK ADA KESEMPATAN UNTUK MEMILIH; TIDAK ADA KESEMPATAN BERPESTA, BERDEMOKRASI.
Saya tidak sok suci ingin berdiri seakan dapat menjadi orang nomor satu yang peduli pada negri ini, yang sok ingin memilih dan menganggap satu suara yang saya genggam dapat membawa perubahan. Saya hanya ingin memastikan bahwa telinga saya masih sangat amat berfungsi, dengan seluruh saraf ruet di dalamnya yang masih terhubung dengan saraf lain kesadaran saya bahwa ada sesuatu yang salah, yang tak beres dalam sebuah pesta tuan rumah ini yang hanya dapat dirasakan beberapa tahun sekali visitasinya.
Suatu kehormatan bagi saya ketika dapat berkeluh tentang sistem demokrasi yang masih nyandet, tanpa kepekaan yang jelas dari atas, yang menganggap semuanya lancar, lancar dan lancar. Dengan bermodalkan berlembar-lembar kertas bernilai tinggi -yang membutakan banyak mata para tetua hingga hijau keruh tak abu- dengan seperangkat keyakinan bahwa kekuatan magis barang itulah yang akan merobot gerak kerja sebuah sistem dengan nama: ATURAN. Untuk sebuah kesatuan negara yang sudah cukup berusia, pastinya ini bukan sebuah bahan eksperimental lagi kan?
Berikan saya jeda untuk sesekali bersuara, walau sekarang hanya bersua: ya, sudah mau bagaimana. Saya tidak ingin ada 'ya sudah, ya sudah' yang lain. Bukan menyoal 'ya sudah' yang berkonotasi: sangat merelakan. Lebih dari itu, keinginan yang besar untuk ingin ikut berpesta bersama, dalam bahagia yang tak dirasakan (mungkin) dalam sebuah pesta ulang tahun saat kecil dulu dengan seorang penghibur: badut.
Tidak ada badut yang ingin saya cari disana, tetapi senyuman seliwer orang yang datang menyokong indonesia dengan sejumput keyakinan akan perubahan dan dengan sekuat pikiran serta gerak tangan mereka saat menandai salah seorang yang tak unggul, tapi dapat dipercaya untuk konsistensinya dalam berdiri menjaga, bukan duduk melamun.
***
Selamat berpesta untuk semua yang terundang. Selamat berbahagia untuk sehari yang tertunggu sedari lama. Dan selamat berjuang untuk yang berdiam menunggu pesta, demi sebuah undangan yang telah tertulis tapi tak terkirim. Cukup berdoa, semoga tak salah alamat.
Gambar di ambil dari: http://www.ishr.org/?id=839
Tidak ada komentar:
Posting Komentar