
Sedari beberapa hari lalu, saya dibawa dalam sebuah aktivitas yang cukup padat - terlibat dalam sebuah pameran sekolah musik milik kawan saya; sebuah aktivitas yang sangat menguntungkan di tengah jenuh sela liburan panjang ini. Beberapa kawan lain juga ikut berpartisipasi didalamnya.
Usaha ini sendiri telah dibangunnya semenjak empat tahun lalu, dan bagi saya hal ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang sangat matang dalam pembangunan masa depan keluarga mereka. Tepatnya, esok hari sang istri akan memberikannya keturunan. Memang, kelahiran anak pertama mereka ini dijadwalkan dalam sebuah operasi cesar.
***
Sangat menyenangkan dapat melihat kedatangan mereka dalam ruang pamer sore ini. Walau sedikit mengagetkan memang, dalam jam-jam menuju proses persalinannya masih dapat mampir dan memastikan semua berjalan dengan semestinya. Dengan kemeja berpatrakan bunga, ia sangat terlihat cantik hari ini. Jalannya masih sigap, seperti kebanyakan seliweran orang yang lewat.
"Nggak istirahat di rumah?" celetuk saya.
Pertanyaan saya hanya disahuti dengan tawa sang suami. Betapa saya dapat merasakan dengan jelas perasaan sang calon ayah ini. Senyumnya lebar, yang tergambar hanya: bahagia.
Beberapa menit setelah kedatangannya, merekapun berpamit pulang. Semuanya telah tertata dengan rapi, dan mereka beranjak pergi. Tak lama kemudian mereka masih terlihat di ujung jalan, sang istri membawa sebuah kup ice cream. Pemandangan yang sama dalam dua hari ini.
***
Sebuah suasana yang menyentuh hati saya, melihat langkah seorang wanita yang dalam hitungan jam akan menjadi seorang ibu. Yang akan mendapatkan anak tak selalu sesuai dengan harapannya. Yang tak semudah ketika ia memesan sebuah kup ice cream dalam sebuah toko. Yang tak menahu rasa sayang anaknya kelak kepada dirinya.
Akan seperti apa anakku ini? Masihkah pertanyaan ini terlintas dan duduk manis dalam benaknya? Masihkah ia melirik bocah yang berseliweran lari di kejar ayahnya karena baru saja telah memukul ibunya?
Sebuah destinasi seorang ibu yang akan tetap tertulis: menerima dengan segala apa yang ada pada anak saat terlahir dari buah pinggangnya. Yang tak akan lagi terkurung lama di dalam sana, karena sembilan bulan terlalu cukup untuk meringkup bersembunyi di dalamnya.
Ibu, yang saat wanita tak akan tahu seperti apa anaknya kelak. Yang mungkin tak berbeda jauh dari anak kawannya. Yang tak pernah mendengarkan ibunya bicara, yang hanya dapat duduk mengadah kaki saat ibunya menyapu kolong kursi. Atau bahkan yang duduk menunggu di beranda klinik, sambil sesekali mengucap doa atas sesakit ibunya.
Apakah ibu masih dapat menyebut dirinya seorang ibu sebelum tersakiti?
***
Masihkah ada jeda nafas yang melegakan untuk seorang ibu? Yang mungkin akan pergi hari ini meninggalkan semua. Yang mungkin hanya meninggalkan sesal tangis dan semua sia-sia lain yang tak sejalan dengan laku lama kita. Agar juga kita tak meninggalkan kuatir pada langkah wanita yang akan sesegera menjadi ibu, untuk menanya: seperti apa anakku kelak.
Tengoklah keluar sekarang. Ada seorang ibu yang tersenyum lebar berbangga atas dedikasi anaknya. Ada seorang ibu yang duduk menangis di bangku tua panti ditinggalkan anaknya. Ada seorang ibu yang sedang meratapi anak kawannya karena tak pernah memiliki sepertinya. Dan ada seorang ibu muda yang sedang berjalan, dan penuh harap akan anaknya kelak.
Teruntuk semua ibu, yang masih yakin menjadi seorang ibu.
Dan teruntuk semua anak, yang masih ingin memiliki ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar