HARI YANG BIASA SAJA, DI JANUARI YANG BARU.
Entah mengapa, tiga hari yang lalu tepat pada saat pergantian tahun menuju 2009, serasa begitu aneh bagi saya. Atau kata lain apalah yang dapat menjabarkan hari itu: biasa saja. Tidak ada rasa senang atau uforia apapun yang (biasanya) terasa pada saat tahun akan berganti.
Tiga puluh satu Desember pagi saat terbangun, saya menulis pada sebuah buku yang baru saja saya beli. Menulis apapun yang saya rasakan sewaktu saya terbangun di pagi hari, dengan sebuah harapan saya akan menulis sebuah mantra harian yang spontan dan dapat menjadi penuntun saya dari hari ke hari. Dan bergeraklah saya menuju nakas tumpuk di seberang kasur sana, dan menyahut buku bertuliskan Enjoy your holiday itu.
Singkat kata, tulisan dengan hanya berisikan beberapa baris itu saya sudahi. Pada ujung kertas tersebut –sambil melihat kalender di atas nakas– saya akhiri dengan menulis jam dan tanggal hari itu.
Pk. 09.24, 31 Desember 2008
Di hari pertama aku memutuskan untuk melupakannya.
Berselang sekitar lima detik sesudah pensil saya terangkat, sekejap bola mata saya tersambar pada angka 31, kemudian desember, dan kemudian 2008. Begitu kagetnya saya dengan sederet tanggal itu. Maklum, sudah beberapa minggu ini saya berpergian tanpa tahu tanggal bahkan hari apa pada hari itu. Liburan cukup membuat penyakit kronis saya kambuh: lupa. Tidak ada juga jadwal harian pasti selama liburan ini, semuanya mengalir. Bahkan untuk merayakan akhir tahun sekalipun –belum ada atau bahkan tak terpikirkan sedikitpun. Otak saya mulai berputar. Saya baru saja menyadari bahwa tahun akan segera berganti, 2008 menjadi 2009.
Bukankah hari itu seperti hari yang biasa saja?
Mungkin tidak ada perubahan yang berarti di januari yang baru. Hanya di setiap deret tanggal yang ditulis nantinya, tidak akan ada lagi tertulis angka 2008 tetapi 2009. Bukankah setiap hari hal-hal sekecil itu pasti terjadi? Tanggal selalu bertambah. Bulanpun demikian. Mengapa orang-orang merasa begitu tak sabarnya menuggu detik-detik pergantian hari itu? Bukankah hari sebelumnya tidak demikian? Mengapa mereka hanya merayakan yang kemarin?
***
Jam-jam menuju 2009 pun semakin dekat. Namun kegiatan hari itu begitu biasa saja. Hanya berpergian sebentar di salah satu mall, kemudian pulang tanpa satupun dibawa pulang.
Menyadari hari makin larut dan malam segera berakhir, dan dengan sebuah perbincangan singkat bersama sahabat saya di telepon sewaktu itu: nek turu yo nggak seru lah! Wong taon baruan kok.. (Kalau tidur ya nggak seru, kan ini sedang tahun baru..), sederet rencana pun mulai terpikirkan untuk mengakhiri tahun ini. Dengan sebuah catatan: sebagai rutinitas belaka. Ajakan dari kerabatpun mulai berdatangan. Mulai dari merasakan pergantian tahun dalam bioskop, hingga acara BBQ tahunan sahabat-sahabat saya. Namun dari sederet rencana yang sekejap datang bertubi-tubi, tak ada satupun yang begitu menggiurkan. Semua terasa datar dan mentah. Dan dengan segala pertimbangan yang ada, saya memastikan untuk tidak berpergian dari kota saya hari itu. Sebuah persekutuan dengan Tuhan di gereja, akan menjadi penutup tahun yang sempurna –saya pikir. Biarlah sebuah pertemuan denganNya malam ini, akan menutup perjumpaan saya dengan 2008, dan memberi pandangan pertama yang manis pada 2009.
Setiba dalam gereja – 2 jam menjelang 2009
Doa singkat menghantar saya pada perjalanan menuju kursi yang akan saya duduki di bagian depan dekat mimbar. Sangat singkat dan tiba-tiba.
Hari ini sungguh biasa, Tuhan. Tetapi terimakasih untuk ini.
Dan tibalah saat untuk beribadah.
10 menit menjelang 2009
Mata saya terbuka, dengan sepotongkecil roti di tangan kanan dan segelaskecil anggur di tangan kiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gereja saya selalu mengakhiri detik pergantian tahun dengan perjamuan suci.
Segala sisa waktu yang ada di 2008 itu digunakan untuk memuji dan menyembahNya. Dan membawa saya pada sebuah perjumpaan yang indah. Hal itu sekaligus melengkapi doa singkat saya tadi sewaktu berjalan menuju tempat duduk dekat mimbar.
Hari ini sungguh biasa, Tuhan. Tetapi terima kasih untuk ini. Kesempatan untuk mengetahui sesuatu yang seharusnya luar biasa, menjadi biasa saja. Kesempatan ini mengubah usia dunia yang kuketahui. Bukan lagi 2, 0, 0, dan 9. Tetapi berjalan alon dengan detik yang kulalui. Bukankah besok masih tahun baru Tuhan? Ya, besok tahun baru lagi. Lusa tahun baru lagi. Begitu juga dengan selanjutnya. Walau hari ini biasa saja, namun masih ada kesempatan yang tersisa untuk merayakannya. Ada banyak hari yang masih siap untuk dirayakan. Ya, terima kasih Tuhan.
Doa itu menutup perjumpaan saya dengan 2008. 2009 telah mengulurkan tangannya, dan siap untuk berkenalan dengan saya. Sangat manis dan luar biasa.
Saya menggandeng 2009 keluar ruangan, dan menunjukkan dunia yang baru padanya. Selamat datang di duniaku.
***
Di januari baru pukul 6 pagi
Saya berada di luar rumah, siap untuk mengantar sahabat perempuan saya untuk pulang sesudah semalam tadi saya bersama teman-teman gereja menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama.
Dalam perjalanan, saya memandang sekitar tanpa berhenti. Hanya ada beberapa aktivitas kecil yang terlihat, sangat sepi. Cuaca hari itupun masih sangat lembab, maklum, malam tahun baru ini dihiasi hujan. Saya memandang wajah seluruh orang yang melintas di depan saya. Apa yang sedang mereka pikirkan tentang januari yang baru ini? Luar biasa atau biasa saja seperti yang saya pikirkan? Ah, biar itu menjadi PR untuk mereka sendiri.
Kendaraan saya sudah mendekati perumahan menuju ke rumah sesudah mengantar sahabat saya itu. Saya memutuskan berhenti sejenak, mengambil kamera yang sempat saya cangking di atas meja tadi sebelum berangkat, dan diabadikanlah suasana januari yang baru itu, yang biasa saja.

Di balik gerimis kecil pagi ini,
matahari berpamit pergi ke pelukan bumi.
Seberkas kecil sinarnya terbias manis di rerumputan.
Saya duduk di beranda rumah
ditemani secangkir teh yang hangat.
Di jauh sana, di bawah kakilangit nampak sayu-sayu bias cahaya
yang mewarna wajah bumi dengan indah.
Seorang datang menyampaikan kertas beramplop merah.
”Oh, utang lagi-utang lagi!”
Ternyata hari ini hari yang biasa saja.
***
Selamat Tahun Baru, walau hari itu hari yang biasa saja.
Siapkan hari yang baru, yang bisa jadi hari yang luar biasa.
matahari berpamit pergi ke pelukan bumi.
Seberkas kecil sinarnya terbias manis di rerumputan.
Saya duduk di beranda rumah
ditemani secangkir teh yang hangat.
Di jauh sana, di bawah kakilangit nampak sayu-sayu bias cahaya
yang mewarna wajah bumi dengan indah.
Seorang datang menyampaikan kertas beramplop merah.
”Oh, utang lagi-utang lagi!”
Ternyata hari ini hari yang biasa saja.
***
Selamat Tahun Baru, walau hari itu hari yang biasa saja.
Siapkan hari yang baru, yang bisa jadi hari yang luar biasa.
6 komentar:
Duh km seharusnya jadi penulis aja deh...
I felt d same way on the moment, too.
But i missed the meeting in thechuch then.. Now that i read ur writing, i feel a bit regret that i didn't go...
Success in the new year ya liang...
please pray 4 me, too...
GBU always dear...
sincerely,
candle
Di AMIN in aja dulu deh lin : ) Hehe.
Sukses juga buat kmu lin.
Selalu ada doa buat kmu kok : )
God Bless.
P.s: U know what lin? Keyakinanku buat menulis selama ini, juga di bangun dari obrolan-obrolan kecil kita selama ini. You're the best teacher ever. Muach2.
Saya tidak menyangka.. sungguh2 tidak menyangka... Heuehehehe.. Liang.. ternyata dirimu sangat puitis..!!! Puitisnya nggak yang rada nggombal lagi! Jarang lho diriku menikmati tulisan yang puitis. Tapi yang ini, oke punya!
Emang dulu nyangka nya gimana? Haha. Anyway, thanks a lot ce jes. Thats my honor. :-) Keep writing juga buat cc.
love this one so much.. lol..
hm.. liang.. u're talented artist.. must publish ur own writing.. kk.. ^^
in His love & mine,
u-knoe-who-i-am
Absolutely know who u are. :-) Thanks so much buat so many spirit you shown me, setidaknya aku mulai mencoba buat berani lebih melangkah. :-) God Bless.
Posting Komentar