Sabtu, 11 Mei 2013

SIAPA CEPAT, SIAPA TEPAT, DIA DAPAT


Penghujung 2011 dunia bergeming saat wafatnya sosok Kim Jong Il, penggerak utama Korea Utara (Korut). Ada hal yang tertinggal dalam otak saya; masyarakatnya yang begitu tunduk dan fanatik. Lihat saja sikap kedukaan mereka yang seolah sangat mendewakan pemimpinnya. Sedang pada kenyataannya, pemerintah merajai kehidupan masyarakat. Hak asasi manusia dibatasi secara ekstrim.
Menilik artikel ‘When It Comes To Health, Wealth And Happiness, Human Freedom Matters’ dalam majalah Forbes. Sebuah tolak ukur dilakukan Fraser Institute mengenai kebebasan manusia. Meliputi kebebasan individu dan ekonomi. Dalam pengertian panjang; kebebasan melakukan sesuai apa yang dinginkan, tanpa ada dan tidak adanya fasilitas. Barangkali paling penting, hampir semua bangsa dalam 10 besar tersebut mahir mendorong kewirausahaan (kutipan Forbes). Tak heran jika Korut tak memiliki catatan yang membanggakan. Semua diawasi, semua dibatasi. Tertulis dalam artikel, bahkan untuk memberikan data keperluan penelitian, pemerintahnya menolak keras.
Berbeda dengan Belanda yang berada di peringkat kedua. Dan juga seperti yang kita tahu, Belanda menduduki peringkat 8 negara paling bahagia dalam catatan Forbes. Menempatkan negara kincir angin ini dalam jajaran prestasi, baik sebagai penemu, penggagas hingga pelaku. Lantas, apa kaitan ‘kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan’ dapat membawa Belanda pada pencapaian inovasi?
***
Pandangan masyarakatnya yang tak terbatas akibat menomorsatukan ‘kebebasan’ memacu semangat berinovasi untuk berpegang penuh akan apa yang mereka percaya dan terbuka terhadap sekelilingnya.
Piet Mondrian, penggagas gerakan seni pionir de Stijl ini awalnya hanya menyerap gaya Kubisme. Ia bersikukuh menganggap hal itu sebagai ‘pelabuhan sementara’ saja dalam perjalanan seninya. Hingga Mondrian meramu sendiri de Stijl dan berhasil membuat banyak orang paham. Seketika juga, ia menyebarkannya.
Antonie van Leeuwenhoek, pun demikian. Bapak biologi yang berkontrobusi terhadap didirikannya Mikrobiologi ini, mendapat peluang untuk mengungkapkan metode penelitiannya pada Royal Society of London dari ahli fisika Belanda, Reinier de Graaf. Teorinya sempat dijatuhkan, namun karena kekokohan prinsip mengenai produknya, ia berhasil.
Sepotong pengalaman seniman Indonesia Aditya Novali yang menuntaskan perkuliahannya di Design Academy Eindhoven Belanda mengungkapkan hal yang sama. “Saya diajarkan banyak mengenai basic idea untuk mempertahankan produk. Adapun tantangan yang diberikan agar orang yang awalnya tidak paham menjadi paham dengan berbagai strategi. Akarnya yang diperkuat”, jelasnya.
Saya juga teringat akan kisah Kartini yang dipertanyakan posisinya sebagai simbol emansipasi. Penelitian guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar di buku Satu Abad Kartini mengungkapkan, “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini”. Singkatnya, Kartini lahir karena kecekatan tokoh Belanda mengangkat wanita indonesia sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi. Padahal banyak pendahulunya yang bisa dianggap lebih berkontribusi. Oleh kedekatan Kartini dengan pihak Belanda jugalah, buah pikirannya tersalurkan. Untuk menciptakan sosok pahlawan bangsa sendiri, kita telah tersalip. Belanda memiliki sikap sergap untuk mengkomunikasikan apa yang dimiliki.
***
Lantas, masihkah kita harus menyembunyikan banyak ‘hal’ baik dan tak pernah cukup yakin dengan ‘hal’ itu? Semua telah ada di tangan. Keberhasilan tokoh-tokoh pelopor Belanda menyadarkan kita bahwa untuk membuat temuan yang baik; diperlukan landasan yang kuat, kesadaran berbagi, serta laju lari yang kencang. Siapa cepat, siapa tepat, dia dapat!

Sumber
www.en.wikipedia.org/wiki/Human_rights_in_North_Korea
www.forbes.com/sites/realspin/2013/01/07/when-it-comes-to-health-wealth-and-happiness-human-freedom-matters/
www.forbes.com/sites/christopherhelman/2013/01/09/the-worlds-happiest-and-saddest-countries-2/
www.en.wikipedia.org/wiki/Piet_Mondrian
www.en.wikipedia.org/wiki/Antonie_van_Leeuwenhoek
Hasil wawancara penulis dengan Aditya Novali via pesan elektronik
Artikel 'Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah' yang dimuat di akun facebook Salam Satu Jari DIY & Jateng: http://tinyurl.com/c6mlshl

Tokoh Inspirasi: Adrian Ishak

Inspirasi penuh yang saya dapatkan dari seorang chef bidang Molecular Gastronomy beberapa waktu lalu, meyakinkan niat saya untuk berbagi disini. Semoga tulisan ini menginspirasi untuk siapapun yang percaya pada kemampuan mereka, dan berkarya. (tulisan dipublikasikan di majalah Elle Decoration Indonesia edisi spesial November 2012)





*Tulisan pada halaman ke 5 & 6 mengenai Meringue Maestro tidak ditampilkan.

Selasa, 15 Mei 2012

OTAK-ATIK OTAK


Otak itu seperti ruang bagi anak kecil yang sedang bereksperimen dengan dinosaurus hijaunya, agar dapat meletakkannya pada sekat dekorasi di dinding kamar bermain. Ia mengikatkan dinosaurus itu melalui tali kecil penarik ulur truk angkut mainan, agar dinosaurus dapat mencapai sekat itu.

Ruang itu awalnya kosong, tetapi ruang itu kemudian dibongkar, seperti anak kecil yang bertanya: bi, itu siapa? | Itu teman bapak, dek. | Ngapain disini? | Tadi bapak habis olahraga sama dia. | Kok dia nggak sama anaknya, bi? | Bibi nggak tahu, dek. | Kumisnya kok lucu? | ……………  Anak kecil tak akan lelah menguak.

Katanya, otak harus diberantakkan. Katanya, Otak itu lahan bermain.

***

Sekiranya, perbincangan dengan Aditya Novali, seorang seniman multi dimensi Indonesia yang beberapa bulan saya temui itu berhasil membuka langit pikiran saya. Ia adalah seorang seniman yang sempat saya anggap enteng, tetapi siang itu mengubah segalanya. Saya menemuinya untuk keperluan sebuah bahan tulisan. Aditya awalnya seorang arsitek. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Conceptual Design di Design Academy Eindhoven, Belanda.

Ia menceritakan kisah-kisah yang terdengar ringan, tapi bermakna dalam. Kematangannya membuat saya berpikir mengenai lingkungan tempat ia belajar. Iapun menodong otak saya untuk membahas pendidikan di Indonesia dan Belanda. Sebagai lulusan universitas yang disebut-sebut sebagai best design academy in the world, ia menceritakan pelajar Belanda (bukan karena perintah) secara berkala akan ‘mengobrak-abrik’ otaknya sendiri.

Saya teringat saat berkuliah di Surabaya, bagaimana teori desain yang begitu rumit diwajibkan untuk dihafal. Perintah yang kaku, literatur cepat saji. Otak seakan dijajah. Disaat pengajar Belanda meruntuhkan pembatas untuk berada pada ‘strata’ yang sama dengan pelajar. Bertukar pikiran bersama, interupsi yang ‘halal’ hingga pengajar yang humble untuk mengakui ketidaktahuannya atas jawaban dari pertanyaan pelajar yang terlampau kritis.

Ia menambahkan, bermain-main pada ruang otak itu, juga tidak menuntut kita untuk mengembalikannya seperti semula. Chaotic has the own  beauty if you come across, they said.

Saya mengerti, mungkin ini juga yang mengantarkan StudioJob, duo desainer asal Belanda Job Smeets dan Nynke Tyagel lulusan dari Design Academy Eindhoven kerap memecah keheningan dunia desain. Sebagai seorang yang bergelut dalam dunia seni dan desain, saya (dan mungkin Anda) tidaklah asing dengan karyanya. Hampir setiap objek yang lahir merupakan ikon atau arketipe sederhana, namun memecah logika teori desain kontemporer.

Kiri ke kanan: Pouring Jug, Studio Job. Aplikasi grafis simbol industri dari Studio Job pada catwalk Victor & Rolf Fall/Winter 2010.

 Salah satu meja karya Studio Job.

Pelaku desain lain asal Belanda yang telah berhasil, sebut saja fashion brand dunia Viktor & Rolf, MarcelWanders –Creative Director MOOOI, Tord Boontje, Maarten Baas dan banyak lainnya, adalah jajaran desainer eksperimental yang memiliki dunia ‘gila’nya dan tak takut untuk menuturkan ide. Karya-karya mereka telah mendunia dan menjadi jajaran ikonik, dari hasil otak-atik otak, budaya pendidikan yang baik dari Belanda. Jadi, sampai kapan otak kita terus akan dituntun?

***

Tulisan ini untuk mama dan papa. Yang dari semenjak kecil hingga detik ini, mereka tak pernah membahas otak saya harus ‘menjadi’ dan seperti apa. Tetapi semalam tadi menelpon, katanya, ‘sukses ya nak, semoga bisa menang.’. Dan otak sayapun menemukan jalannya.

Sumber gambar:
Studio Job Press Area
Sumber lain:

Jumat, 23 Desember 2011

IF ONLY IN MY DREAMS



Ini bukan doa, bukan juga permohonan. Ini cerita singkat di kota tak bersalju. Ini cerita dari kota yang disaat siang hari kau akan berlarian sakit saat keluar dengan telanjang kaki. Tidak juga ada jaring lampu yang merangkul pohon hijau runcing di sudut kamarmu. Ini cerita tentang mengingat masa kemarin, dan garis waktu tempat saat ini kita berpijak berdiri.

Jika natal adalah tumpukan hadiah warna-warni yang kulihat tadi, maka aku akan berlari mengejar petugas pengirimnya dan memohon untuk mengalamatkan salah satunya kepadaku. Atau aku akan bermain tombol huruf ponselku, mengirimkan daftar keinginan itu pada seseorang yang sekiranya akan memberikannya kepadaku.

Natal adalah kebahagiaan yang dibicarakan, kehangatan yang saling ditawarkan. Dan mungkin, Natal bagi beberapa orang bukan hanya tentang keluarga. Berbeda denganku, Natal ini telah mengubah raut wajahku. Setidaknya seperti para pejuang di Perang Dunia kedua dulu. Menulis surat di bilik peristirahatan mereka kepada keluarganya. Menceritakan sebuah pesta privat khusus untuknya yang ada dalam mimpi semalam, jika mereka dapat pulang ke rumah malam Natal itu. Ya, itu seperti cerita asal lagu I'll Be Home For Christmas.

Tetapi jika kau merasa bahwa itu cerita lagu yang mengada-ada, pergilah jauh. Atau mungkin tak usah terlalu jauh. Setidaknya kau tak dapat memeluk mereka di malam Natalmu. Atau kau sepertiku, sangat janggal jika harus memeluk kedua orangtuamu. Tetapi di saat mereka tak dapat bersenda gurau semeja denganmu malam ini, kau akan sangat ingin memeluknya.

Jika teman adalah keluarga, itu adalah hadiah terindah bagimu. Demikian juga bagiku, tidak ada yang bisa mengelak hal itu. Tetapi ketika teman itu adalah keluargamu, dan kau tetap tak dapat bersama dengan keluarga yang membesarkanmu, itulah Natal yang kubicarakan padamu. Natal yang barusaja kutahu; Natal adalah rumah bagimu, dan demikian juga rumah adalah tempat terindah saat Natal bagimu.


Kirimkan aku bukan sekotak besar berisi hadiah termahal yang dapat kau tawarkan kepadaku. Kirimkan aku meja bulat sederhana dengan kudapan manis, yang keluargaku mengitarinya dan mengisi masing-masing bangku itu. Jika akan ada makan malam Natal malam ini, jika akan ada mereka.

If only in my dreams.



Kepada mama dan papa, selamat natal. I love you, because i know no other way.
Gambar | Kristine May 

Selasa, 20 Desember 2011

SOMETHING TO REMEMBER


Kurang dari dua minggu lagi, kita akan segera menutup tahun. Saya teringat sebuah rangkaian kata sambutan di akhir perkuliahan saya dulu. Mungkin ini salah satu hal yang paling membekas dalam hidup saya, dapat memberikan pesan atau nilai kehidupan bagi orang banyak pada kala itu. Dan membacanya kembali, memberikan semangat bagi saya untuk bersiap memulai tahun yang baru. Ini salah satu hal yang mungkin bisa jadi anda tertawakan atau biasa saja, tetapi melalui blog ini saya banyak berharap bukan hanya orang-orang di kala itu yang mendengarkan ketika saya berdiri di depan banyak orang, tetapi anda juga bisa mendapatkan sesuatu. Selamat membaca.

***

Yang terhormat, Senat Universitas, Segenap Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra, Pimpinan, Dosen, & Karyawan Universitas Kristen Petra, serta yang berbahagia para wisudawan dan keluarga.

Salah satu akhir dalam fase kehidupan kami, yaitu jenjang perkuliahan telah sampai pada hari ini. Suatu hal yang saya atau sahabat-sahabat sekalian disini tak pernah percaya sebelumnya bahwa dapat menyelesaikan empat tahun yang panjang dengan sangat baik. Sebuah proses panjang di Universitas Kristen Petra yang telah terlalui dan membawa kami hingga jauh kemari, merefleksikan sebuah pembelajaran yang akan diingat sampai nanti. Banyak yang berpikir bahwa perkuliahan hanya salah satu pengisi waktu luang atau sebatas kebutuhan gelar untuk tetap dipandang masyarakat sebagai orang yang berpendidikan. Hal itu jauh dari pemikiran saya, yang sangat menghargai masa perkuliahan dimana saya terlibat didalamnya, mendapatkan proses pembelajaran yang paling berharga yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. 

Suatu ketika dosen saya pernah berkata bahwa kecerdasan bukan hanya mengenai perolehan nilai, menjadi nomor satu atau hal akademis lainnya. Namun belajar untuk berbagi, bahwa ilmu tidak hanya milik sendiri. Kuncinya, menjadi berprestasi namun tetap peduli dan rendah hati. Disinilah saya juga belajar banyak bahwa iman dan ilmu dapat jalan seiring. Saat ini, tidak ada yang mengerti suatu saat seperti apa saya dan seluruh sahabat disini akan menjadi. Namun proses belajar dan berorganisasi disini telah mengisi penuh amunisi untuk bekal di depan kelak.

Sebuah pegangan atau amunisinya telah Saya dan teman-teman semua dapatkan. Amunisinya adalah untuk selalu bertanya, belajar, dan hidup. Saya bertumbuh dalam keluarga yang menuntut kemandirian. Mama saya tidak pernah menuntut untuk saya belajar. Papa saya tidak pernah menuntut untuk saya terus bertanya. Namun mereka telah mengajarkan saya bagaimana kehidupan itu, sehingga seiring berjalannya waktu, semua itu berbalik kepada saya sendiri untuk mempertanyakan, mempelajari dan selanjutnya menikmati hidup yang luar biasa.

Life is one long learning process. Setelah ini saatnya kita terus belajar dan berusaha meskipun mungkin tidak melulu benar. Setelah ini saatnya untuk terus mengumpulkan kesalahan, dalam arti belajar dan selalu mempertanyakannya. Seperti yang dikatakan Socrates: “Hidup yang tak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang tak pernah layak untuk diteruskan”. Jadi bertanyalah, belajarlah, sampai akhir hidup kita, karena kenaikan jenjang kita saat ini bukanlah berarti kita telah paham segalanya. Ketika kita berhenti belajar dan bertanya, kita mati. Jadi pilihannya, bertanya atau mati?
 
Terimakasih yang paling terutama, yang mengawali dan mengakhirinya dengan sempurna, Tuhan Allah Bapa. Terimakasih sebesar-besarnya untuk papa mama, untuk setiap doa yang dipanjatkan senantiasa untuk kami, untuk senyuman, pengertian dan kepercayaan kepada kami. Terimakasih untuk segenap bapak/ibu dosen dan karyawan yang telah membimbing kami, yang selalu mengingatkan kami bahwa hidup adalah saling memberi. Terimakasih kepada semua sahabat-sahabat untuk segala hal yang telah kita lalui bersama selama ini, atas semua pengalaman yang akan kuingat sampai tua nanti. 

Pada akhirnya, ingatkan kami para wisudawan, jika suatu saat kami telah mencapai satu titik tinggi yang bahkan kami sendiri tak pernah menduganya, jangan pernah takut untuk menarik telinga kami, menyadarkan dari kesombongan diri kami bahwa kita masih berdiri di atas bumi yang sama dan di bawah langit yang sama. Hidup dalam kerendahan hati, bukan kesombongan diri. 

Selamat hidup yang memukau teman-teman: bertanyalah, belajarlah, dan hiduplah!


Lianggono Susanto (41407063)
Wisudawan Jurusan Desain Interior

Gambar | Axioo

Kamis, 15 Desember 2011

PARIS



Cerita ini sangatlah indah. Sederhana. Tetapi menyentuh dari seorang Gwyneth Paltrow yang saya baca di blog pribadinya goop.com. Selamat membaca.

When I was ten years old, my father and I took a trip to Paris, leaving my younger brother and mother in London where she was filming a movie. My dad believed in one-on-one time with us, and sometimes that extended to a weekend away. We stayed at a great hotel and he said I could order whatever I wanted for breakfast (French fries). We went to the Pompidou museum, the Eiffel Tower and the Louvre - the usual spots. It was pretty great. On the plane back to London he asked me if I knew why we had gone, just he and I, to Paris for the weekend. I said no, but I felt so lucky for the trip. He said, “I wanted you to see Paris for the first time with a man who would always love you, no matter what.” From that time on, Paris was and continues to be very special to me. I lived there for five months in 1994 and I have made many trips back. These are the places in Paris I stay and eat and toast my dad.

Love,
Gwyneth Paltrow


Gambar | axioo.com

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kembali Ke Tanah Asal, Bersikap Bagi Bumi Yang Tak Asal



Setiap tahun saya tidak memiliki kisah mudik seperti kebanyakan orang, mengingat Kota yang saya singgahi adalah Kota asal dari keluarga besar saya sendiri. Iri memang, namun beruntungnya saya memiliki asupan cerita mudik wajib tiap tahun dari sahabat terdekat saya. Kami yang berjumlah enam orang telah bersahabat sejak kecil. Kami adalah sekumpulan orang lintas etnis yang beragam dan bahagia dengan perbedaan kami. Inilah juga yang membuat kami sering bertukar pikiran dan berbagi cerita. Cerita mudik ini kemudian datang dari Dyan yang berasal dari Madiun.

Dyan sendiri tidak begitu banyak memahami mengenai isu lingkungan saat ini secara kompleks. Namun saat Dyan berbagi cerita mudiknya, ada beberapa hal yang cukup menarik dan merefleksikan manusia yang masih menghargai alamnya. Ada tiga hal baik yang saya catat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua:
 
1.
Seperti cara mudik layaknya masyarakat luas, Dyan dan keluarganya masih memilih jalan darat yaitu dengan mobil pribadi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta dalam mobil keluarganya bertambah. Ada dua orang tetangganya yang bergabung menuju ke Kota yang sama. Selain mengurangi kepadatan arus mudik dan dapat bercengkerama bersama, hal ini juga sangat berpengaruh baik bagi lingkungan. Pergi bersama-sama dalam satu mobil dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil. Setiap satu liternya yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Konsentrasi selimut gas tersebut secara ekstrem di atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu bumi secara global. Belum lagi bila seluruh masyarakat Indonesia yang mudik memilih jalan udara. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), penerbangan dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca. Lebih besar pengaruhnya dibandingkan jalan darat yaitu, bus, mobil, motor atau kereta. Jadi,, apa salahnya bila kita bisa bergabung bersama bila memungkinkan dan menggunakan cara konvensional yang akan jauh lebih mengakrabkan?!

2.
Bertemu dengan sanak saudara hingga sahabat kecil kita adalah hadiah sederhana yang paling indah saat dapat pulang kampung halaman. Begitu juga ketika Dyan dapat bertemu dengan Nenek, Bude (tante), dan keluarga lainnya. Ada satu ‘harta karun’ yang selalu Dyan bawa saat mudik selain oleh-oleh khas Kota tempat tinggalnya saat ini. ‘Harta karun’ itu adalah pakaian yang telah tak terpakai dan masih dalam kondisi baik. Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa hal ini tidak pantas, namun bila berpikir jeli tradisi ‘harta karun’ Dyan dapat menjadi kado istimewa bagi keluarga dan khusunya bagi bumi. Emisi karbondioksida–hasil proses produksi, konsumsi dan distribusi yang tak terkontrol akan kebutuhan masyarakat dalam ranah industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Salah satunya produksi bahan sandang.

Penulis Dewi Lestari pernah menuliskan, “atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih”. Ketidakpuasan manusia membuat mereka merelakan uangnya masuk dalam laci kasir boutique setiap minggu. Bisa sekarang juga kita menengok ke lemari kita, ada berapa baju yang tak terpakai, tidak muat lagi atau sudah bosan dipakai? Meneruskan perjalanan jauh pakaian itu–mulai dari masih berupa kain panjang, proses produksi, dilempar ke toko, hingga saat ini berada di tangan kita dan tak terpakai–dengan meneruskannya ke tangan orang lain yang menginginkan (atau membutuhkan), maka keluarga pewaris ‘harta karun’ itu setidaknya mengurangi jumlah konsumsi terhadap kebutuhan sandang. Kita juga membantu proses produksi sedikit mengerem lajunya karena ‘harta karun’ yang terus kita putar.

3.
Berpergian jauh dari rumah selalu menuntut kita untuk tetap mencukupi kebutuhan yang kita butuhkan. Misalnya saja di tengah perjalanan mudik kita beristirahat dan mampir swalayan untuk membeli minuman, snack dan lain sebagainya. Dyan adalah salah satu sahabat saya yang selalu konsisten untuk menolak kantong plastik di setiap belanjanya. Hingga mudikpun, hal ini juga terbawa. Tuntutan untuk selalu konsumtif setiap mudik/liburan yang merugikan nyawa lingkungan tertolong dengan sikap ini. Bayangkan bila ribuan peserta mudik seluruh masyarakat Indonesia menolak kantong plastik dalam setiap belanjanya dan menggunakan tas belanja sendiri.

***

Mudik merupakan suplemen liburan bagi kita. Mengunjungi tanah asal yang masih bebas polusi, merasakan wangi tanah yang masih harum, sebuah rekreasi yang melegakan. Mudik/liburan bisa juga dekat dengan sikap yang apatis dan sembrono bila kita menutup telinga dan berpura-pura tidak melihat penderitaan bumi. Mudik harus dekat dengan efisiensi dan efektivitas, ide baru yang cerdas serta tanggung jawab dan komitmen akan lingkungan. Seperti yang telah dilakukan Dyan, saya belajar berpergian bersama (bila memungkinkan) dan dengan cara konvensional akan jauh lebih baik; ide ‘harta karun’ yang harus terus berpindah tangan; serta komitmen menolak kantong plastik walau sedang mudik/liburan sekalipun. Pada akhirnya, semua akan kembali ke alam. Manusia dari tanah, dan akan masuk kembali ke tanah. Manusia dilahirkan dengan segala kebebasan, tetapi kebebasan tersebut masih dalam ranah untuk bersikap arif dan bijak dan tak asal terhadap lingkungan. Jika bukan kita yang bertindak, siapa lagi?
                  
Referensi
Akmal, Imelda. Hemat Energi. Seri Rumah Ide Edisi 1 No. IV. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009
Gambar | axioo

Rabu, 14 September 2011

LET IT GO



Siapa yang tak mencintai orangtuanya? Bisa jadi saya adalah orang yang bisa anda tuduh. Saya bertumbuh dengan kondisi senang yang tak instan. Melalui susah yang kecil-kecil hingga besar. Capek sekali rasanya, tapi saya bersyukur sekali. Dulu, saya jarang memikirkan bagaimana bisa menyenangkan orangtua. Sampai pada satu kesempatan, saya tau kenapa harus menyenangkan mereka, dan menyadari bahwa saya belum secara full-time menyayangi mereka.

Gong-nya adalah sebuah keputusan terhebat yang pernah saya ambil di hari setelah pertengkaran besar dengan papa saya. Saya sering bertengkar, adu argumen sampe ngotot, yang pada akhirnya berujung pada tidak saling menyapa. Tidak jarang dan sering hal itu terjadi. Masalahnya sering lahir dari hal kecil; semisal sewaktu kecil saya sering merengek di depan umum yang membuat papa saya marah dan memukul saya. Seperti itulah.

Keputusan besar itu lahir secara iseng dan dalam keadaan putus asa. Saya baru menyadari setelah lama hidup dalam masalah, saya jarang berintrospeksi. Bukan hanya berintrospeksi diri, tapi kaitan objek yang menyalahkan, disalahkan, dan faktor hingga masalah itu sering muncul. Intinya, saya sering lupa meng-"akumulasi"kan masalah yang muncul, dan mengapa selalu secara kontiniu terjadi.

Singkatnya, ada sebuah faktor x yang menjadi pemicu pertengkaran saya dengan papa saya. Uang. Aneh memang di dengar, tapi begitulah kenyataan yang ada. Saat ketergantungan antara uang dan kebutuhan begitu menjadi penting, uang menjadi pemicunya. Seringkali papa saya tidak memperhatikan hal-hal kecil yang harusnya secara cepat dapat saya dapatkan sehingga tak perlu berujung pada bantahan keras.

Hal itu sangatlah salah untuk dilakukan, namun hanya dengan begitu saya bisa mendapatkannya (dulu saya berpikir begitu). Hingga saya baru menyadari, bahwa kekuatan uang sebegitu besarnya. Hanya karena uang saya melepaskan jarak yang baik dengan orangtua saya. Sejak saat itulah, sebuah keputusan dibuat. 

Keputusan terbesar dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan tidak akan lagi bernegosiasi dengan uang. Saya merasakan bahwa jarak saya semakin dijauhkan oleh uang antara saya dan orangtua. Bukan lagi saatnya mengijinkan hanya karena uang hal itu terjadi. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak lagi menerima uang dari orangtua saya. Karena dengan begitu, saya tidak akan lagi bertengkar dengan beliau. Awalnya ngeri, bagaimana kehidupan saya. Namun setiap hal baik selalu ada jalan bukan? Begitulah yang saya alami. Sejak saat itu (semasa kuliah) saya sering menerima berkat melalui pekerjaan-pekerjaan yang selalu berdatangan.

***

Saya memiliki seorang teman yang sedang bermasalah dengan orangtuanya. Sejak berpacaran dengan kekasihnya, ia sangat dibenci oleh orangtuanya. Persetujuan belum dikantongi, namun ia nekad untuk menjalaninya hingga sebuah hubungan yang sangat jauh. Hingga detik ini, keduaorangtuanya masih belum mengijinkan, bahkan tidak menyapa anaknya dan kekasihnya. Menyedihkan sekali.

Melalui catatan ini, saya ingin mengatakan sebuah hal. Entah ia membacanya atau tidak. Orangtua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Kalaupun ia tak membiayaimu, mereka menghidupkanmu. Saya selalu mencibir orang yang berkata seperti itu dan tak pernah merasakan hal yang sama. Hingga suatu saat ketika saya melakukan keputusan yang sangat besar itu, saya menyadari setiap waktu yang terlalui begitu sia-sia. Saat ini, saya tak pernah bertengkar dengan kedua orangtua saya, makin hari makin menyayangi mereka.

Satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya adalah, melepaskan sesuatu hal yang menjadi batu dalam kehidupan kita. Uang adalah salah satu batu bagi saya pada masa lalu. Karena uang saya tidak pernah berdamai dengan orangtua saya. Menyedihkan. Hingga suatu saat saya menyadari kekeliruan yang luar biasa. Dan sejak saat itu, saya melepaskan itu. Seperti permasalahan sahabat saya, ketika kau sedang melakukan sesuatu hal yang menjauhkan dengan kedua orangtuamu, apakah kamu membiarkannya begitu saja? Ada sebuah pengorbanan dalam setiap keputusan, tapi akan ada sebuah hal lain akan lahir. Sesuatu hal yang sampai kapanpun tidak akan terbeli.

Jadi, apa yang menjadi "batu"mu? Just let it go.

Gambar oleh Lianggono.

Jumat, 19 Agustus 2011

CATATAN: BJ HABIBIE UNTUK ALMARHUMAH ISTRINYA


Catatan ini sangatlah bagus untuk direnungkan. Sesuatu yang sangat indah. Selamat membaca.

Kata BJ Habibie untuk Almarhumah Istrinya:

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku.

Kamis, 18 Agustus 2011

MENJADI SESUATU


Aku ingin menjadi sepasang sepatu di dalam sebuah toko yang ditunjuk seorang anak miskin itu. Berhari-hari ia lewat toko itu. Ditarik pulang ayahnya pulang karena tak dapat membelinya. Sepatu yang sederhana saja, hanya untuk dipakai sekolah karena yang lama tak dapat digunakan lagi. Setidaknya sebagai pengganti sandal jepit ber-surat ijin dari orangtua kepada guru sekolahnya, yang dipakainya beberapa hari ini.


Aku ingin menjadi sepatu yang terombang-ambing di antara batu besar sungai itu. Ditunggu beberapa ibu-ibu miskin yang menunggu di ujung sana. Dengan pengait besi penyaring sampah, mereka mengusap keringat. Setidaknya untuk dijual atau dicuci dan dipakaikan untuk suaminya bekerja.

Aku ingin menjadi sepatu menganga di kaki pelari itu. Pelari cilik ingusan harapan warga sebuah kampung kecil. Untuk merebut satu hadiah televisi mini yang diharapkan bisa tergantung di ujung pos hansip, dilihat bersama dengan secangkir teh panas. Menjadi sesuatu untuk sebuah kampung.

Aku tidak begitu ingin diinginkan. Aku hanya ingin menjadi sebuah kesempatan, keberuntungan, kehidupan bagi seseorang. Sebuah hal di dalam ketidakberuntungan dan ketidakadilan hidup. Menjadi sesuatu, sesederhana itu.


Catatan dalam sebuah perjalanan panjang, melihat sepasang sepatu tergeletak di tepi sungai Bangkok.
Agustus, 2011.
Gambar diambil oleh Daniel Liben Photography

Senin, 20 Juni 2011

CATATAN KECIL: MENGAKHIRI

 

Ini merupakan sebuah curcol saya menjelang sidang (rabu besok), dimana hati gundah gulana. Bayangin-nya aja agak semacam takut gitu. Jadi kutuangkan dalam blog ini untuk menghindari perasaan-perasaan yang tak diinginkan. Benernya sudah siap sidang sih, tapi nunggu waktunya itu yang malesin abis. Kok ya rabu nggak besok aja gitu *ditampar berjamaah*. Masalahnya sudah nggak ada yang dikerjain, jadi di rumah cuman nunggu, nunggu dan nunggu. Have fun sih, tapi ya kurang legowo gitu.

Ok, mengingat hampir empat tahun sudah saya di Universitas itu. Rasanya senang campur aduk. Di antara nggak nyangka dan nyangka. Nyangkanya karena saya pasti bisa lulus, nggak nyangkannya bisa melalui empat tahun yang nggak bentar itu. Gila, kok bisa ya. I really do believe that Jesus always nurturing me. Yes, i do believe.

Sudah sejauh ini dibimbing hingga jangka waktu yang sebegitu jauh menurut saya. Nggak semudah ini bisa menyelami banyak hal, dimana saat kuliah saya banyak mengeluh dan mengeluh. Karena nggak puas ini itu, nggak dapat yang diharapin and the blah blah blah. Ketika flash back lihat ke belakang (dan sembari melihat karya saya), ada 'bertumbuh' disitu. Itu yang nggak terpikirkan. Gimana proses desain akhirnya begitu saya ketahui dan pelajari. Selalu ada jalan saat kita nggak bisa ngapa-ngapain. Ada jalan saat desain yang jelek atau kegagalan bisa menjadi hal yang (terkadang) akan sangat kita rindukan, karena dari sana anda menemukan sebuah pembelajaran hidup (seperti pengalaman yang pernah saya share disini). Yah, begitu melekat. Sedih bahagia cyin :')

Yang pasti, ketika masuk di jurusan desain interior ini, saya nggak pernah mikir atau duga. Semuanya mengalir. Saya pernah bilang, take wherever You want me to go. Dan ternyata disinilah saya harus belajar. Baik pendidikan dan kehidupan. Dan saat semuanya akan berakhir, satu yang selalu saya percaya.

Ketika Tuhan sudah memilih tempat ini dan menuntun sejauh ini buat saya, Tuhan jugalah yang akan mengakhiri dengan caranya yang sempurna.

I do believe! Keep fighting teman-teman yang senasib dengan saya. Ingat, selesaikan apa yang menjadi bagian kita, karena inilah hidup. Berproses :)

Gambar diambil disini

Jumat, 03 Juni 2011

CATATAN KECIL: BERJALAN ATAU BERLARI


 
It's been a long time ya sepertinya setelah nggak update blog sama sekali (nggak lama-lama juga sih *siulan*). Tiba-tiba pengen banget share sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, setelah berkutat dengan bahasa yang sangat sopan dan bersahaja, here i am mau nulis dengan bahasa sehari-hari aja biar lebih bisa dimengerti :)

Sebenernya sih ini catatan kecil aja tentang sesuatu yang baru saya dapat. Or something i called 'blessing' yang kayaknya penting untuk kita semua.

Di tengah hiruk pikuk mau lulusnya saya di dunia perkuliahan, pastinya bingung lah ya mau kerja dimana. Yah, bingung total. Secara gitu saya nih perfectionist banget orangnya. Jadi nggak mau kalau dapet kerjaan yang nggak layak atau asal-asalan gitu. *dirajam masa* Dan memang sih beberapa bulan lalu tuh dunia dah kayak gempar abis. Di rumah kayaknya selalu cari-cari info mau kerja apaan.

Dan di tengah itu, i feel kinda like aduh apasih maunya Tuhan nih buat saya. Bingung. Serius. Sampe kadang desperate. Kayaknya saya lari mau ngejar something yang berasa so gelap banget. Istilah belandanya: meraba. Dan setibanya dalam kesedihan itu, saya itu doa bilang gini: Tuhan, kadang saya tuh waktu jalan santai, eh disuru lari. Tapi sekarang waktunya aku lari, kok kayaknya arah depan tuh masih gelap banget. Even Tuhan sendiri nggak kasi sign atau apalah yang bisa sedikitnya mencerahkan.

Dan Tuhan pun kasi sesuatu yang bagus banget:
"When God asks you to walk and you choose to run, you will lose your focus."

Sebuah quote indah dari AR Bernard. Dan segalanya berubah. Pengertian itu membalikkan sesuatu hal yang selama ini mungkin saya (atau mungkin kalian) selalu pegang. Bahwa nggak selamanya kok kita itu disuruh lari sama Tuhan. Ada kalanya semuanya berkebalikan. Ada kalanya ketika Tuhan belum suruh kita lari dan kita berpikir: "lari dulu ah, ntar biar Tuhan seneng waktu minta kita lari, eh dah liat anaknya lari.". Salah. Ada kalanya Tuhan itu nggak pengen kita keburu-buru. Dan bukan berarti kita santai duduk kongkang-kongkang gitu. Lebih kepada, ketika kita PEKA terhadap apa yang Tuhan mau.

Semenjak itu saya berpikir, yang berlari lebih dulu belum tentu di garis depan pertama. Dan yang jalan dibelakang belum tentu menjadi yang paling belakang. Semua ada hidupnya masing-masing. Jadi, mau berjalan atau berlari? :)

Gambar diambil disini

Sabtu, 16 April 2011

WANITA, YANG TERDORONG DAN AKAN TETAP BERDIRI


Siang yang dingin. Seorang pria yang marah. Hentakan meja dan pukulan keras. Piring pecah. Teriakan yang memekik telinga. Begitu terekam jelas dalam benak saya hingga saat ini, siang yang mengubah segalanya. Segalanya mengenai konsep gender yang dijelaskan panjang lebar oleh guru sekolah; siapa, seperti apa, bagaimana, dan peran apa seorang perempuan/wanita itu. Ya, adegan yang tak asing dalam sebuah rumah tangga. Namun, siang itu berbeda. Bukan perkelahian yang biasa. Lemparan piring, pukulan, tangkisan, meja yang terbuang jauh, dan teriakan yang keras menjadi penanda berakhirnya kepercayaan saya terhadap seorang Ayah (kala itu), ketika menyaksikan tindakan yang tak selayaknya terlihat oleh seorang anak. Rasa takut dan keinginan untuk pulang –saat kebingungan menyamarkan sebuah rumah yang tak terasa lagi seperti rumah (untukmu).


Saat itu juga, terlihat sesosok wanita yang tangguh dan tak mau dilawan. Pukulan yang dibalas dengan tangkisan. Bukan seorang wanita yang didorong lalu jatuh ke lantai. Tetapi yang terdorong dan meneriakkan keras pembelaan. Keanggkuhan pria yang dibalas dengan uraian air mata. Bukan air mata ketakberdayaan, namun meneriakkan kebebasan dengan kelembutan seorang wanita.


Sejak siang itu, semua berubah. Wanita yang saya kenal, bukan wanita yang seperti Ismail Marzuki tulis, “..ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu.”.

Rabu, 13 April 2011

KACAMATA

 

Ini catatan singkat. Teruntuk setiap manusia dewasa yang kehilangan masa kanak. Masa kanak di kala telah dewasa, dan tak mengijinkan dirinya dilingkupi keluguan manusia kecil dan lucu seperti yang terlihat di seberang jalan itu, tertawa dan menerima segala hal dengan senyuman.

Menyapa manusia dewasa yang terlalu serius, atau yang mulai kehilangan kacamata ‘kecil’nya untuk memandang segalanya dengan kerendahan hati seperti di kala kecil tersakiti, menangis, tertidur, dan terbangun lupa apa yang telah terjadi.

Senin, 04 April 2011

TUHAN DAN SEPASANG SEPATU

 

Menuliskan sebuah catatan atau ringkasan kecil tentang Tuhan yang saya atau kita tahu sangatlah riskan. Saya sebut demikian bukan karena Tuhan yang seperti berada di tingkap langit paling atas dan terkesan tak hormat untuk dibicarakan, tetapi melalui perspektif kita masing-masing dalam memandang seperti apa Tuhan dan bagaimana konsep Tuhan yang ada dan kita percaya. Mempertanyakan Tuhan, seperti kita sedang meraba kepala lemari yang cukup tinggi, tanpa kita bisa tahu barang apa yang kita sedang atau akan kita raih. Menerka. Ya, seperti itulah.

Sebelumnya saya pernah menuliskan mengenai sebuah konsep Tuhan dengan analogi payung di sebuah hujan deras dan dapat anda lihat disini. Namun keinginan saya menuliskan ini berangkat dari kegelisahan saya dari sebuah berita yang beredar belakangan ini mengenai sebuah lagu (yang katanya) setan dari Lady Gaga yang mungkin sudah banyak anda dengar, baik melalui milis, messenger dan media lainnya. Berikut salah satu kutipan beritanya (jika terlalu panjang, baca saja secara cepat karena tak terlalu penting):

Selasa, 29 Maret 2011

MASALAH-MASALAH YANG TAK SELESAI.



Apakah setiap pertanyaan harus memiliki sebuah jawaban? Mungkin kau akan berpikir, jika tak perlu jawaban, lalu apa arti sebuah pertanyaan. Lalu bagaimana bila jawabanmu itu akan mengembalikan pengertianmu untuk kembali bertanya? Bertanya, dijawab, dan kembali menanya.


Bagaimana bila ditanya, mengapa kau menyayangi seseorang yang (memang) benar-benar kau sayangi? Bisakah kau memastikan bahwa jawaban itu yang pantas untuk menjabarkan perasaanmu? 

Selasa, 15 Februari 2011

BUMI DAN ARSITEK KECIL



Siapakah kita yang begitu kecil bersembunyi duduk di ketiak pohon? Tertawa manis bersama burung gereja hingga tertidur pulas dibawa nyanyian angin. Siapakah kita yang begitu kecil bila duduk di atas pangkuan bumi? Hingga tak nampak, namun pandai menggerigiti tubuh bumi.


“Siapakah kita bila dibanding dengan bumi?” Itulah pertanyaan kecil yang terlintas dalam pikiran saya. Manusia yang begitu kecil. Namun, apakah sikap dan perilakunya terhadap bumi sejalan dengan apa yang nampak?


Tidak demikian. Manusia lahir di bumi. Bersekutu dengan tanah, air, dan pelengkap bumi lain hingga dewasa yang tak pernah lepas ditemani. Keinginan manusia untuk menikmati isi bumi dengan segala ide dan kreativitas yang tak pernah puas untuk menciptakan kenyamanan hidup, tidak dibarengi dengan sikap bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam. Krisis energipun menjadi problematika yang tak terelakkan di era modern ini.


Sejalan dengan kedewasaan manusia, kita sadar bagaimana bumi ada bukan hanya untuk kita. Generasi akan terus lahir dan tak terhenti. Angka kelahiran menunjukkan populasi manusia bergerak cepat. Aktivitas bumi makin dipertanyakan. Apakah kita menjadi nenek moyang yang tak menyisakan sedikitpun kelegaan dan kenyamanan bagi anak cucu kita?


Minggu, 15 Agustus 2010

INDONESIA, DALAM WAJAH JAMAN (SOSIAL MEDIA)



Seperti sebuah bola yang menggelinding-melesat cepat dari dataran miring puncak gunung, sosial media menjadi rangkaian cerita anak jaman yang berlari makin gesit bernama perubahan.

Inilah wajah baru dunia kita. Dengan gen tekno atau yang berkesan robotik, atau yang banyak dikata sudah tidak lagi manusiawi. Inilah persepsi yang beredar dalam masyarakat sosial kita. Twitter, Facebook, Blog, Koprol, dan sebagainya menjadi serangkaian benda bernyawa dengan berjuta komunitasnya. Lalu, pantaskah sosial media ini menjadi langkah tajam bagi kita untuk bermasyarakat?