Selasa, 29 Maret 2011

MASALAH-MASALAH YANG TAK SELESAI.



Apakah setiap pertanyaan harus memiliki sebuah jawaban? Mungkin kau akan berpikir, jika tak perlu jawaban, lalu apa arti sebuah pertanyaan. Lalu bagaimana bila jawabanmu itu akan mengembalikan pengertianmu untuk kembali bertanya? Bertanya, dijawab, dan kembali menanya.


Bagaimana bila ditanya, mengapa kau menyayangi seseorang yang (memang) benar-benar kau sayangi? Bisakah kau memastikan bahwa jawaban itu yang pantas untuk menjabarkan perasaanmu? 



Menyayangi seseorang itu seperti kau harus menyelesaikan sebuah lukisan. Setiap apa yang akan digoreskan merupakan apa yang memang sedang ingin kau goreskan, atau bahkan goresan itu lahir dari pemikiran pendek tanpa rencana, atau pemikiran panjang tak terpecahkan dan berujung pada goresan spontan. Ya, seperti ketika kau bangun di pagi hari dan sikat gigilah yang pertama kau raih dengan tanganmu. Tanpa mengetahui mengapa, namun berulang dan terjadi setiap pagi. Di tempat yang sama, gerakan sikat yang sama, dan cara meletakkannya kembali di tempat yang sama.


Mengapa ada sebuah titik merah yang tergambar seperti bercak di ujung kanvasmu itu? Mengapa di atas lapisan cat kuning menyala itu ada biru samar yang tergambar? Berbagai pertanyaan yang lahir, saat kau tak benar-benar tahu apa yang telah kau goreskan, saat kau melakukan tanpa beban dan bahagia dengan tanganmu.


Karena menanyakan mengapa seseorang mencintaimu, seperti sebuah masalah-masalah yang tak selesai. Yang kau lempar di ujung jalan, dan tak kau bawa pulang. Dan saat esok, lusa, dan keesokan harinya lagi, masalah itu selesai tanpa kau tahu apa yang barusaja kau lakukan. Hingga setiap pertanyaan yang tak dapat dijawab, terjawab saat kau melaluinya dan perlahan melangkah. Bukan hasil berpikir panjang mencari setiap jawaban, dari banyak pertanyaan yang seperti tak pernah selesai.


Itulah jawaban sesungguhnya, saat pertanyaan menjadi susah untuk terjawab. Cukup percaya, dan semua akan terjawab :)

Tidak ada komentar: