Senin, 07 Juni 2010

DESAIN YANG BELAJAR



Inilah sebuah catatan kecil. Catatan yang lahir dari sebuah cerita yang menyeberangkan saya pada sebuah tangisan, ketidakberdayaan, penyesalan, penyadaran diri, dan dedikasi. Berawal dari sebuah rencana, atau yang lebih nyata disebut dengan sebuah keharusan. Rencana anak kuliahan untuk menuntaskan tugasnya dalam mendesain sebuah kursi, demi nilai yang menggembirakan dan hasil yang tidak mengecewakan.

Sudah tugas saya untuk membuat kursi ini, sebagai seorang mahasiswa desain interior yang dalam sebuah mata kuliah mengajarkan saya sebuah proses produksi kreatif dalam konteks mebel untuk mengkreasikannya secara riil. Tepatnya, proses pembuatan kursi yang saya desain ini berlangsung pada awal semester lalu. Seiring berjalannya waktu, setelah menyelesaikan seluruh gambar kerja untuk keperluan produksi dimulailah pembuatan kursi ini. Bisa diceritakan cukup panjang dan melelahkan prosesnya.

Cerita sebuah penyesalan yang saya maksud bisa jadi berawal dari hal ini: ketidakyakinan saya pada awal pendesainan bentuk dari kursi ini. Mungkin bisa dikatakan hal itu merupakan sebuah pertanda atau apalah namanya. Saya sudah dibuat goyah luar biasa, mulai dari awal asistensi dengan dosen saya, ketidak seriusan-yang saya rasa, pencarian tukang yang sulitnya bukan main karena bentuk kursi saya yang relatif sulit, hingga hal-hal yang mengganjal lainnya. Namun karena keterbatasan waktu, pikiran, dan aktivitas, saya putuskan untuk tetap mengerjakannya.


***

Inilah babak tangisan, ketidakberdayaan dan penyesalan.

Kursinya bisa diambil besok kamis ya mas karena sudah kelar.” Tepatnya hari kamis itu saya sedang berada di Singapura, jadilah saya tak berkesempatan untuk mengambil, memeriksa dan melihatnya sendiri. Berhari-hari jantung saya dug-dug an tak karuan. Bukan senang tapi penasaran, takut bagaimana melihat hasil akhir dari kursi tersebut. Sebelum pergi saya sudah menyusun rencana untuk meminta tolong pada sahabat saya untuk datang dan mengabadikannya dalam foto, serta mengirimkannya melalui milis.

Malam-malam sekali setelah lelah seharian beracara, tibanya waktu saya untuk menyempatkan diri melihat kiriman milis dari sahabat saya mengenai foto tersebut.

Kamar saya cukup kecil untuk ukuran penginapan, sekitar 4x3 saja. Teman sekamar saya sudah lelap diatas ranjang empuk itu. Dan saya? Milis itu mengantarkan saya pada sebuah tangisan malam yang tak berarah. Saya kalut. Sangat labil tentang kursi itu. Secara bersamaan, begitu banyak hal yang masuk dalam pikiran saya: kursi sahabat-sahabat saya yang jauh lebih menarik, kegagalan yang saya rasakan tentang diri saya, kebodohan, dan hal negatif lainnya. Dan saya berteriak.

Kecewa, dan kecewa luar biasa. Saya merasa sedang jadi desainer yang bodoh. Entah bagaimana saya sedang melihat sebuah kenyataan yang hal itu datang karena diri saya sendiri-lepas dari kesalahan (juga) dari pekerja finishing yang saya gunakan untuk kursi itu karena sangat amat nampak tak rapi dan tak karuan.


***

Babak penyadaran diri, dan dedikasi.

Malam biru. Malam yang sudah membebaskan saya dari kekangan kepalsuan antara saya dan diri saya sendiri-yang merasa sedang tidak ada apa-apa tentang hal itu.

Setelah pulang dan melihat secara lebih dekat lagi hasil dari kursi tersebut, saya memutuskan untuk membenahinya-lepas dari kesalahan saya sendiri, untuk memperbaiki hasil finishing dari pekerjaan yang tak karuan tersebut.

Sembari menunggu hari demi hari, ada satu hal yang sempat saya renungkan. Mengapa saya merasa sebagi seorang desainer yang gagal? Mengapa saya menjadi tak berdaya karena kesalahan saya sendiri? Saya lekas sadar akan satu hal yang sebenarnya sedang saya sembunyikan tentang diri saya sendiri. Seperti ketika wajah anda tergores sesuatu dan berbekas, lalu anda tahu dan merasa tak ada sesuatu yang terjadi pada wajah anda.

Sepeti itulah saya, yang selama ini menganggap bahwa desain yang baik, atau cenderung luar biasa selalu datang dari hal yang sedikit berlebihan, atau tidak biasa. Saya tidak mau (tahu) atau berpura-pura tidak tahu bahwa desain yang luar biasa bisa jadi ada dalam sebuah kesederhanaan. Sebuah kesalahan itu mengajarkan saya untuk memahami hal yang lebih relevan. Saya tak perlu muluk-muluk dalam mendesain seperti ekspektasi yang telah saya bangun ketika awal merancang kursi itu. Hal yang terlalu berlebihan namun tak sejalan dengan harapan. Yang telah dibangun tinggi, dan roboh seketika.

Setidaknya saat ini saya yakin, good design doesn’t have to be mind-blowing or be in a crazy shape. Dan saya mau belajar tentang hal itu.

Saya masih menghargai kerja keras saya, walau ada rasa ingin membuang kursi itu sejauh-jauhnya jika memungkinkan. Saya masih boleh sedikit bangga karena saya sudah berani menjadi seorang desainer yang mau bekerja dan mau berproses, dan yang saya kira hal ini lebih baik terjadi saat ini daripada takkan pernah terjadi untuk dipelajari. Dan saya menyayangi kursi itu.

Lepas dari seluruh kekecewaan itu, saya tahu sekarang mengapa saya harus berterimakasih melalui hal ini. Saya bukan hanya sedang belajar membuat kursi yang tidak sejalan dengan keinginan saya. Kata-kata papa saya malam kemarin mencambuk dan mengingatkan sesuatu hal yang (mungkin) sedikit terlupakan.

Kursi koncomu yang lain yapa liang? Ya paling kursimu ini jadi yang paling bagus.” Wajah saya datar seketika, sedangkan dalam hati saya sedang cekikikan. Papa saya seorang yang optimis nampaknya. Entah menghibur atau bagaimana. Tetapi saya yakin ia tidak sedang berbohong pada anaknya. Saya teringat akan kerja kerasnya dalam mengantar saya setidaknya dua kali dalam seminggu untuk bolak-balik kota pasuruan menemui dan memastikan semuanya berjalan lancar pada pekerja yang saya percayai untuk kursi itu.

Dan saya paham saat ini, saya tidak sedang membuat sebuah kursi yang gagal, tetapi sebuah kursi yang menyeberangkan saya pada sebuah penghormatan untuk papa saya atas kerja keras yang terkadang kita lupakan. Tidak ada yang bisa menggantikannya, selain dedikasi yang datang dari hati.

Dan inilah sebuah kursi yang sudah membebaskan saya dari seluruh pikiran penat akhir-akhir ini, untuk seorang papa tercinta yang telah berkorban, dan untuk diri saya yang telah menyenangkan papa dengan caranya sendiri. ARGGHH! :)

Karena kita salah, karena kita sedang belajar. Selamat berkarya lagi dan lagi.
Dedikasikan untuk PAPA tercinta :)

Tidak ada komentar: