Sabtu, 16 April 2011

WANITA, YANG TERDORONG DAN AKAN TETAP BERDIRI


Siang yang dingin. Seorang pria yang marah. Hentakan meja dan pukulan keras. Piring pecah. Teriakan yang memekik telinga. Begitu terekam jelas dalam benak saya hingga saat ini, siang yang mengubah segalanya. Segalanya mengenai konsep gender yang dijelaskan panjang lebar oleh guru sekolah; siapa, seperti apa, bagaimana, dan peran apa seorang perempuan/wanita itu. Ya, adegan yang tak asing dalam sebuah rumah tangga. Namun, siang itu berbeda. Bukan perkelahian yang biasa. Lemparan piring, pukulan, tangkisan, meja yang terbuang jauh, dan teriakan yang keras menjadi penanda berakhirnya kepercayaan saya terhadap seorang Ayah (kala itu), ketika menyaksikan tindakan yang tak selayaknya terlihat oleh seorang anak. Rasa takut dan keinginan untuk pulang –saat kebingungan menyamarkan sebuah rumah yang tak terasa lagi seperti rumah (untukmu).


Saat itu juga, terlihat sesosok wanita yang tangguh dan tak mau dilawan. Pukulan yang dibalas dengan tangkisan. Bukan seorang wanita yang didorong lalu jatuh ke lantai. Tetapi yang terdorong dan meneriakkan keras pembelaan. Keanggkuhan pria yang dibalas dengan uraian air mata. Bukan air mata ketakberdayaan, namun meneriakkan kebebasan dengan kelembutan seorang wanita.


Sejak siang itu, semua berubah. Wanita yang saya kenal, bukan wanita yang seperti Ismail Marzuki tulis, “..ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu.”.



***


Mungkin cerita di atas adalah salah satu catatan kehidupan paling hitam yang dapat saya bagi untuk menggambarkan seperti apa wanita saat ini. Wanita yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bukan mengacu pada tindakannya untuk melawan, namun melihat independensinya di saat seorang pria bersikap menjegal dan menyalahgunakan kekuasaanya. Lepas dari segala duduk permasalahan yang ada, wanita ingin tetap dilihat, didengar dan dihargai.


Konsep itulah yang lahir dari seorang tokoh wanita paling berpengaruh di bumi Indonesia, R.A Kartini, saat emansipasi dijadikannya sebuah peninggalan manis untuk seluruh wanita Indonesia. Bukan sekedar untuk dinikmati, karena esensi pencapaian yang sebenarnya adalah ketika wanita mau menunjukkan keberadaannya baik melalui kecantikkan, kedewasaan, terlebih kecerdasannya dalam jaman yang semakin lebar meluas dan tak terkendalikan waktu.


Delapan februari kemarin, media sosial menjadi saksi lahirnya sebuah tulisan yang mencuri perhatian luas masyarakat Indonesia. Beberapa surat kabarpun menjadikannya pokok berita bahasan. Alanda Kariza, sebuah nama yang tak asing lagi di telinga kita. Seorang perempuan berusia 20 tahun dengan banyak prestasi. Novelis dan salah satu penggerak IndonesianYouth Conference. Melalui tulisan ‘Ibu, 10 tahun penjara, 10 milyar rupiah’ di blog pribadinya, seluruh perhatianpun berbelok padanya. Arga Tirta Kirana–ibunya, yang di tuntut karena terlibat kasus Bank Century, dituntut 10 tahun penjara. Padahal, ibunya hanya menjabat Kepala Divisi Corporate Legal di Bank Century.


Gayus – kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya – divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apapun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik?

………

Saya mau ada Ibu di ulangtahun saya yang keduapuluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya – seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya.


Membacanya berulang-ulang, tak menghilangkan rasa simpati saya terhadap ketidakadilan yang diterimanya. Sebuah kejujuran yang ditulis di hadapan jutaan pembaca. Bukan untuk mensugesti dan menganggapnya paling benar, tetapi menyampaikan dari kedalam hati akan keingiinannya terhadap sebuah keadilan yang paling masuk akal dan pantas bagi Ibunya.


Satu lagi kisah dari seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang benar-benar mengerti pemanfaatan kemajuan teknologi dengan hal yang berpengaruh bagi masyarakat Indonesia, bahkan Dunia. Evita Nuh. Blogger cilik Indonesia yang memulai tulisan di blog-nya pada Desember 2008. Berisikan seluruh ketertarikannya dalam dunia fashion, hingga masyarakat luas mendapati kefasihannya dalam berbahasa inggris dan (tentu saja) personal style yang dimilikinya, jauh dari anggapan orang selama ini tentang seorang anak kecil yang hanya bisa bersekolah dan berpengaruh dalam dunia pendidikan seperti pada umumnya. Kesederhanaan anak seusiannya menjelma menjadi rangkaian cerita pencapaian emansipasi wanita yang telah dibangun susah payah oleh R.A Kartini.


***


Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi tidak lagi dapat dipungkiri. Kemajuannya melesat seperti bola di atas dataran tinggi, menggelinding kencang atas nama perubahan. Salah satunya yang melahirkan kisah Alanda dan Evita adalah media sosial. Kisah Alanda dan Evita mungkin merupakan cerita kesekian dimana masyarakat luas meletakkan perhatian khusus melalui kemajuan teknologi ini, yang dapat diakses siapaun, tanpa terkecuali.


Pun demikian, peran wanita dapat menjadi angin segar di antara teknologi yang ada jika digunakan dengan bijak dan cerdas. Ketulusan dan kelembutan jiwa wanita yang diciptakan, ada untuk mengimbangi kewibawaan seorang pria dan menjadi pelengkap dalam ranah saling berbagi. Seperti sebuah kendaraan yang terangkai dari perangkat rumit dan teknologi tinggi, namun tanpa angin pengisi dan minyak pelumas, apalah artinya kendaraan itu?


Selamat melihat wanita, selamat mendengar wanita, dan selamat mendapati wanita yang jika terdorong takkan terjatuh, tetapi berdiri dan meneriakkan keinginan untuk terus maju dan dianggap sama. :)

Gambar diambil dari Axioo.

Tidak ada komentar: