Sabtu, 11 Mei 2013

SIAPA CEPAT, SIAPA TEPAT, DIA DAPAT


Penghujung 2011 dunia bergeming saat wafatnya sosok Kim Jong Il, penggerak utama Korea Utara (Korut). Ada hal yang tertinggal dalam otak saya; masyarakatnya yang begitu tunduk dan fanatik. Lihat saja sikap kedukaan mereka yang seolah sangat mendewakan pemimpinnya. Sedang pada kenyataannya, pemerintah merajai kehidupan masyarakat. Hak asasi manusia dibatasi secara ekstrim.
Menilik artikel ‘When It Comes To Health, Wealth And Happiness, Human Freedom Matters’ dalam majalah Forbes. Sebuah tolak ukur dilakukan Fraser Institute mengenai kebebasan manusia. Meliputi kebebasan individu dan ekonomi. Dalam pengertian panjang; kebebasan melakukan sesuai apa yang dinginkan, tanpa ada dan tidak adanya fasilitas. Barangkali paling penting, hampir semua bangsa dalam 10 besar tersebut mahir mendorong kewirausahaan (kutipan Forbes). Tak heran jika Korut tak memiliki catatan yang membanggakan. Semua diawasi, semua dibatasi. Tertulis dalam artikel, bahkan untuk memberikan data keperluan penelitian, pemerintahnya menolak keras.
Berbeda dengan Belanda yang berada di peringkat kedua. Dan juga seperti yang kita tahu, Belanda menduduki peringkat 8 negara paling bahagia dalam catatan Forbes. Menempatkan negara kincir angin ini dalam jajaran prestasi, baik sebagai penemu, penggagas hingga pelaku. Lantas, apa kaitan ‘kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan’ dapat membawa Belanda pada pencapaian inovasi?
***
Pandangan masyarakatnya yang tak terbatas akibat menomorsatukan ‘kebebasan’ memacu semangat berinovasi untuk berpegang penuh akan apa yang mereka percaya dan terbuka terhadap sekelilingnya.
Piet Mondrian, penggagas gerakan seni pionir de Stijl ini awalnya hanya menyerap gaya Kubisme. Ia bersikukuh menganggap hal itu sebagai ‘pelabuhan sementara’ saja dalam perjalanan seninya. Hingga Mondrian meramu sendiri de Stijl dan berhasil membuat banyak orang paham. Seketika juga, ia menyebarkannya.
Antonie van Leeuwenhoek, pun demikian. Bapak biologi yang berkontrobusi terhadap didirikannya Mikrobiologi ini, mendapat peluang untuk mengungkapkan metode penelitiannya pada Royal Society of London dari ahli fisika Belanda, Reinier de Graaf. Teorinya sempat dijatuhkan, namun karena kekokohan prinsip mengenai produknya, ia berhasil.
Sepotong pengalaman seniman Indonesia Aditya Novali yang menuntaskan perkuliahannya di Design Academy Eindhoven Belanda mengungkapkan hal yang sama. “Saya diajarkan banyak mengenai basic idea untuk mempertahankan produk. Adapun tantangan yang diberikan agar orang yang awalnya tidak paham menjadi paham dengan berbagai strategi. Akarnya yang diperkuat”, jelasnya.
Saya juga teringat akan kisah Kartini yang dipertanyakan posisinya sebagai simbol emansipasi. Penelitian guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar di buku Satu Abad Kartini mengungkapkan, “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini”. Singkatnya, Kartini lahir karena kecekatan tokoh Belanda mengangkat wanita indonesia sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi. Padahal banyak pendahulunya yang bisa dianggap lebih berkontribusi. Oleh kedekatan Kartini dengan pihak Belanda jugalah, buah pikirannya tersalurkan. Untuk menciptakan sosok pahlawan bangsa sendiri, kita telah tersalip. Belanda memiliki sikap sergap untuk mengkomunikasikan apa yang dimiliki.
***
Lantas, masihkah kita harus menyembunyikan banyak ‘hal’ baik dan tak pernah cukup yakin dengan ‘hal’ itu? Semua telah ada di tangan. Keberhasilan tokoh-tokoh pelopor Belanda menyadarkan kita bahwa untuk membuat temuan yang baik; diperlukan landasan yang kuat, kesadaran berbagi, serta laju lari yang kencang. Siapa cepat, siapa tepat, dia dapat!

Sumber
www.en.wikipedia.org/wiki/Human_rights_in_North_Korea
www.forbes.com/sites/realspin/2013/01/07/when-it-comes-to-health-wealth-and-happiness-human-freedom-matters/
www.forbes.com/sites/christopherhelman/2013/01/09/the-worlds-happiest-and-saddest-countries-2/
www.en.wikipedia.org/wiki/Piet_Mondrian
www.en.wikipedia.org/wiki/Antonie_van_Leeuwenhoek
Hasil wawancara penulis dengan Aditya Novali via pesan elektronik
Artikel 'Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah' yang dimuat di akun facebook Salam Satu Jari DIY & Jateng: http://tinyurl.com/c6mlshl