Pagi. Memiliki arti khusus bagi saya. Pagi, yang merupakan sebuah anugerah terindah. Entah mengapa. Selalu ada rasa tenang luar biasa ketika dapat bangun di saat pagi sebelum berganti menjadi siang. Berkesempatan melihat dan merasakan setitik cahaya yang masih murni menyentuh bahu. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkannya: pagi.
Hari ini, (lagi-lagi) kesempatan paling berharga ini masih saya miliki untuk merasakan pagi dari Tuhan. Wangi rerumputan yang masih lembab menyapa pagi saya. Wangi hujan. Wangi tanah. Wangi bumi, yang diciptakan begitu luar biasa. Semuanya menyatu menjadi sebuah pagi yang sempurna. Segelas susu hangat tersaji diatas meja, melengkapi awal hari ini.
***
Pagi-pagi sekali ketika jarum jam berlari menunjuk angka lima, sesegera saya masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa sebelum bersiap untuk mandi, saya sempatkan diri untuk duduk sambil merengkuh tubuh dari dinginnya pagi. Sesudahnya, saya bergegas untuk menyikat gigi.
Sedikit bercerita, saya memiliki gigi yang cukup sensitif. Ketika menyikatnya, saya mendapati bahwa gigi saya seringkali mengalami pendarahan ringan. Walau kondisi yang demikian, saya tetap tak acuh dan membiarkannya saja. Toh, saya pikir selama masih dapat diatasi semuanya akan baik-baik saja.
Namun pagi hari ini berbeda, saya disadarkan akan suatu hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Pagi ini, gigi saya tak mengalami pendarahan. Dengan air kumuran putih keruh, yang tak terdapat setetes darah (sedikitpun).
***
Pernahkah kita berpikir akan sebuah kejadian kecil yang bernama: Keajaiban?
Seperti apa keajaiban? Yang sering kita sebut untuk diharapkan, yang nampaknya sangat besar dan menyembul didepan mata. Yang membutuhkan ekspektasi luar biasa, sebesar keyakinan kita jika ingin memilikinya.
Saya sangat bodoh ketika harus berbicara masalah keajaiban. Seringkali saya merasa bahwa keajaiban jauh dari kehidupan saya. Keajaiban dimata saya identik dengan sebuah kejadian besar yang (mungkin) hanya akan mampir di rumah orang yang benar-benar membutuhkan, atau bisa jadi seperti sebuah undian yang hanya orang-orang dengan faktor peruntungannya tinggi di atas rata-rata, yang akan mendapatkannya.
***
Rutinitas pagi ini menyadarkan saya. Kejadian menyikat gigi yang membuka mata lebar-lebar.
Banyak keajaiban kecil yang merupakan sebuah kejadian dalam hidup kita yang (mungkin) terlihat kasat mata, namun karena seringkali kita terjebak dengan fokus yang terlalu berlebih untuk keajaiban itu sendiri, yang malahan membuat kita tak tersadar akan keberadaannya.
Keberadaannya yang tak jauh dari mata, bahkan menguap dekat di telinga.
Untuk setiap pagi saat bunga bermekaran; untuk setiap siang saat matahari datang bersinar terang; untuk setiap petang saat bulan menyapa; dikala kita lelap ataupun tertawa riang.
Untuk pagi saat saya menyikat gigi, dan mendapati sebuah keajaiban kecil yang bisa jadi sangat meragukan, namun dipastikan oleh kesadaran hati.
***
Pernahkah kita menyadari, bisa jadi sebuah kesialan di suatu pagi yang menyapa kita merupakan sebuah kesempatan awal untuk menerima keajaiban lain?
Bayangkan jika pagi ini kita dapat mengikat tali sepatu lebih cepat yang justru membuat kita harus mengalami sebuah kecelakaan? Hanya karena tak sempat merasakan kesialan dengan tali sepatu hilang, yang membuat kita harus mencari dan sedikit mengalah untuk terlambat. Bayangkan bilamana kita dapat mengendarai kendaraan dengan sangat cepat tanpa hambatan, yang justru membuat kita harus melewatkan sebuah pertemuan yang mungkin akan sangat kita inginkan? Hanya karena tak sempat mengalami kebocoran ban dan kehilangan sebuah kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang akan merubah hidup kita.
Bukankah hal itu merupakan sebuah kejadian kecil bernama keajaiban, yang (mungkin) tak pernah terpikirkan sebelumnya dengan spontan oleh kita?
Keajaiban tak sebesar apa yang kita pikir atau harapkan. Keajaiban adalah kejadian yang biasa saja. Yang sesederhana ada bagi kita, yang tak perlu dituntun untuk datang menghampiri, namun hanya perlu untuk dimengerti dengan hati.
***
Tuhan tak menuntut kita untuk berterima kasih, karena tanpa mengucapnya pun sesungguhnya kita telah menerima kasih.












