Penghujung
2011 dunia bergeming saat wafatnya sosok Kim Jong Il, penggerak utama Korea
Utara (Korut). Ada hal yang tertinggal dalam otak saya; masyarakatnya yang
begitu tunduk dan fanatik. Lihat saja sikap kedukaan mereka yang seolah sangat
mendewakan pemimpinnya. Sedang pada kenyataannya, pemerintah merajai kehidupan masyarakat.
Hak asasi manusia dibatasi secara ekstrim.
Menilik
artikel ‘When It Comes To Health, Wealth And Happiness, Human Freedom Matters’ dalam
majalah Forbes. Sebuah tolak ukur dilakukan Fraser Institute mengenai kebebasan
manusia. Meliputi kebebasan individu dan ekonomi. Dalam pengertian panjang; kebebasan
melakukan sesuai apa yang dinginkan, tanpa ada dan tidak adanya fasilitas. Barangkali
paling penting, hampir semua bangsa dalam 10 besar tersebut mahir mendorong
kewirausahaan (kutipan Forbes). Tak heran jika Korut tak memiliki catatan yang
membanggakan. Semua diawasi, semua dibatasi. Tertulis dalam artikel, bahkan untuk
memberikan data keperluan penelitian, pemerintahnya menolak keras.
Berbeda
dengan Belanda yang berada di peringkat kedua. Dan juga seperti yang kita tahu,
Belanda menduduki peringkat 8 negara paling bahagia dalam catatan Forbes. Menempatkan
negara kincir angin ini dalam jajaran prestasi, baik sebagai penemu, penggagas
hingga pelaku. Lantas, apa kaitan ‘kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan’
dapat membawa Belanda pada pencapaian inovasi?
***
Pandangan
masyarakatnya yang tak terbatas akibat menomorsatukan ‘kebebasan’ memacu
semangat berinovasi untuk berpegang penuh akan apa yang mereka percaya dan
terbuka terhadap sekelilingnya.
Piet Mondrian, penggagas gerakan seni pionir de Stijl ini awalnya
hanya menyerap gaya Kubisme. Ia bersikukuh menganggap hal itu sebagai ‘pelabuhan
sementara’ saja dalam perjalanan seninya. Hingga Mondrian meramu sendiri de
Stijl dan berhasil membuat banyak orang paham. Seketika juga, ia menyebarkannya.
Antonie van Leeuwenhoek, pun demikian. Bapak biologi yang berkontrobusi
terhadap didirikannya Mikrobiologi ini, mendapat peluang untuk mengungkapkan
metode penelitiannya pada Royal Society of London dari ahli fisika Belanda, Reinier
de Graaf. Teorinya sempat dijatuhkan, namun karena kekokohan prinsip mengenai
produknya, ia berhasil.
Sepotong
pengalaman seniman Indonesia Aditya Novali yang menuntaskan perkuliahannya di Design
Academy Eindhoven Belanda mengungkapkan hal yang sama. “Saya diajarkan banyak
mengenai basic idea untuk
mempertahankan produk. Adapun tantangan yang diberikan agar orang yang awalnya
tidak paham menjadi paham dengan berbagai strategi. Akarnya yang diperkuat”,
jelasnya.
Saya
juga teringat akan kisah Kartini yang dipertanyakan posisinya sebagai simbol emansipasi.
Penelitian guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar di
buku Satu Abad Kartini mengungkapkan, “Kita mengambil alih Kartini sebagai
lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak
mencipta sendiri lambang budaya ini”. Singkatnya, Kartini lahir karena kecekatan
tokoh Belanda mengangkat wanita indonesia sebagai pendekar kemajuan wanita
pribumi. Padahal banyak pendahulunya yang bisa dianggap lebih berkontribusi. Oleh
kedekatan Kartini dengan pihak Belanda jugalah, buah pikirannya tersalurkan. Untuk
menciptakan sosok pahlawan bangsa sendiri, kita telah tersalip. Belanda
memiliki sikap sergap untuk mengkomunikasikan apa yang dimiliki.
***
Lantas,
masihkah kita harus menyembunyikan banyak ‘hal’ baik dan tak pernah cukup yakin
dengan ‘hal’ itu? Semua telah ada di tangan. Keberhasilan tokoh-tokoh pelopor
Belanda menyadarkan kita bahwa untuk membuat temuan yang baik; diperlukan landasan
yang kuat, kesadaran berbagi, serta laju lari yang kencang. Siapa cepat, siapa
tepat, dia dapat!
Sumber
www.en.wikipedia.org/wiki/Human_rights_in_North_Korea
www.forbes.com/sites/realspin/2013/01/07/when-it-comes-to-health-wealth-and-happiness-human-freedom-matters/
www.forbes.com/sites/christopherhelman/2013/01/09/the-worlds-happiest-and-saddest-countries-2/
www.en.wikipedia.org/wiki/Piet_Mondrian
www.en.wikipedia.org/wiki/Antonie_van_Leeuwenhoek
Hasil
wawancara penulis dengan Aditya Novali via pesan elektronik
Artikel
'Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah' yang dimuat di akun facebook Salam Satu
Jari DIY & Jateng: http://tinyurl.com/c6mlshl