Rabu, 07 Oktober 2009

MENYIKAT GIGI DAN MENERIMA KASIH



Pagi. Memiliki arti khusus bagi saya. Pagi, yang merupakan sebuah anugerah terindah. Entah mengapa. Selalu ada rasa tenang luar biasa ketika dapat bangun di saat pagi sebelum berganti menjadi siang. Berkesempatan melihat dan merasakan setitik cahaya yang masih murni menyentuh bahu. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkannya: pagi.

Hari ini, (lagi-lagi) kesempatan paling berharga ini masih saya miliki untuk merasakan pagi dari Tuhan. Wangi rerumputan yang masih lembab menyapa pagi saya. Wangi hujan. Wangi tanah. Wangi bumi, yang diciptakan begitu luar biasa. Semuanya menyatu menjadi sebuah pagi yang sempurna. Segelas susu hangat tersaji diatas meja, melengkapi awal hari ini.

***

Pagi-pagi sekali ketika jarum jam berlari menunjuk angka lima, sesegera saya masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa sebelum bersiap untuk mandi, saya sempatkan diri untuk duduk sambil merengkuh tubuh dari dinginnya pagi. Sesudahnya, saya bergegas untuk menyikat gigi.

Sedikit bercerita, saya memiliki gigi yang cukup sensitif. Ketika menyikatnya, saya mendapati bahwa gigi saya seringkali mengalami pendarahan ringan. Walau kondisi yang demikian, saya tetap tak acuh dan membiarkannya saja. Toh, saya pikir selama masih dapat diatasi semuanya akan baik-baik saja.

Namun pagi hari ini berbeda, saya disadarkan akan suatu hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Pagi ini, gigi saya tak mengalami pendarahan. Dengan air kumuran putih keruh, yang tak terdapat setetes darah (sedikitpun).

***

Pernahkah kita berpikir akan sebuah kejadian kecil yang bernama: Keajaiban?

Seperti apa keajaiban? Yang sering kita sebut untuk diharapkan, yang nampaknya sangat besar dan menyembul didepan mata. Yang membutuhkan ekspektasi luar biasa, sebesar keyakinan kita jika ingin memilikinya.

Saya sangat bodoh ketika harus berbicara masalah keajaiban. Seringkali saya merasa bahwa keajaiban jauh dari kehidupan saya. Keajaiban dimata saya identik dengan sebuah kejadian besar yang (mungkin) hanya akan mampir di rumah orang yang benar-benar membutuhkan, atau bisa jadi seperti sebuah undian yang hanya orang-orang dengan faktor peruntungannya tinggi di atas rata-rata, yang akan mendapatkannya.

***

Rutinitas pagi ini menyadarkan saya. Kejadian menyikat gigi yang membuka mata lebar-lebar.

Banyak keajaiban kecil yang merupakan sebuah kejadian dalam hidup kita yang (mungkin) terlihat kasat mata, namun karena seringkali kita terjebak dengan fokus yang terlalu berlebih untuk keajaiban itu sendiri, yang malahan membuat kita tak tersadar akan keberadaannya.

Keberadaannya yang tak jauh dari mata, bahkan menguap dekat di telinga.

Untuk setiap pagi saat bunga bermekaran; untuk setiap siang saat matahari datang bersinar terang; untuk setiap petang saat bulan menyapa; dikala kita lelap ataupun tertawa riang.

Untuk pagi saat saya menyikat gigi, dan mendapati sebuah keajaiban kecil yang bisa jadi sangat meragukan, namun dipastikan oleh kesadaran hati.

***

Pernahkah kita menyadari, bisa jadi sebuah kesialan di suatu pagi yang menyapa kita merupakan sebuah kesempatan awal untuk menerima keajaiban lain?

Bayangkan jika pagi ini kita dapat mengikat tali sepatu lebih cepat yang justru membuat kita harus mengalami sebuah kecelakaan? Hanya karena tak sempat merasakan kesialan dengan tali sepatu hilang, yang membuat kita harus mencari dan sedikit mengalah untuk terlambat. Bayangkan bilamana kita dapat mengendarai kendaraan dengan sangat cepat tanpa hambatan, yang justru membuat kita harus melewatkan sebuah pertemuan yang mungkin akan sangat kita inginkan? Hanya karena tak sempat mengalami kebocoran ban dan kehilangan sebuah kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang akan merubah hidup kita.

Bukankah hal itu merupakan sebuah kejadian kecil bernama keajaiban, yang (mungkin) tak pernah terpikirkan sebelumnya dengan spontan oleh kita?

Keajaiban tak sebesar apa yang kita pikir atau harapkan. Keajaiban adalah kejadian yang biasa saja. Yang sesederhana ada bagi kita, yang tak perlu dituntun untuk datang menghampiri, namun hanya perlu untuk dimengerti dengan hati.

***

Tuhan tak menuntut kita untuk berterima kasih, karena tanpa mengucapnya pun sesungguhnya kita telah menerima kasih.

Minggu, 27 September 2009

SELAMAT MALAM

MALAM

Selamat malam, selamat tenang.

Selamat berpacar dengan nyamuk malam.


Selamat sepi, selamat mimpi.

Selamat ditindih cicak mati.


Selamat tidur, selamat bangun.

Selamat menyapa ranjang bau.


Selamat malam, selamat sedih.

Selamat diselimuti pedih.


Untuk malam yang malang.

Rabu, 29 Juli 2009

MENGHILANGNYAMU

Dalam sebuah senggang malam ini,
kuajak lamunku berandai sesekali.

Kalaupun harus aku kehilangan dirimu,
kuharapkan saja kau pergi hanya dalam sebuah permainan singkat cari mencari.
Sesingkat kau bersembunyi di balik badan pintu kamarmu.
Yang satu menit kuberikan kau waktu untuk pergi,
agar sesegera aku dapat lari mencari.

Bukan dalam sebuah jarak waktu yang panjang.
Tidak untuk seminggu waktu tamasya yang lama.

Untuk sesingkat kumemejamkan mataku,
lebih-lebih itu yang kubayangkan untukmu.
Sesingkat refleks kedip manusia biasa sepertiku.
Dalam hitungan detik, atau bahkan miliperdetik hidupku.

Karena untuk menghilangnyamu,
aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya hampaku.


untuk kau yang sesaat tak ada bagiku.

Kamis, 23 Juli 2009

DELMAN TUA

Doakan aku, ayahku.


Doakan anakmu ini yang bukan siapa-siapa.
Mengucap sajak diantara kawanan orang.
Menuntut hak delman yang mangkrak di garasi tua,
yang ingat kududuki saat masa kanak
menemanimu main ke kota.

Sekarang, delman itu sudah tak istimewa.
Sudah keriput dan menua wajahnya.
Tak pernah dinaiki anak-anak,
yang sekedar main ataupun minta diantar pulang.
Delman itu menanti dipoles ulang dengan ramuan tuannya,
agar tulang menjadi tak rapuh dan sendinya melaju gagah
mengantar semua ayah bersama anaknya main ke kota.

Kusirnyapun semakin tua.
Duduk di beranda gubuk desa.
Main seruling sambil menawari burung gereja
untuk cicipi padi di atas kulit tipis telapak tangannya.

Kudanya sakit manja.
Tangannya melipat manis ke depan,
dengan mata tertutup besi
mencoba berkedip menggoda delman tua.
Besinya goyang-goyang,
berharap delman melihat gerak centilnya.

Delman hanya tersenyum simpul,
katanya harus sabar menunggu anak-anak datang.

Biarkan sajakku menari di depan kawanan anak,
mengajaknya datang membesuk delman tua.
Menghibur bersama agar ketawa,
dan diantarnya mereka hari minggu ke kota.

Biar sampai mulut berbusa,
asal aku dan sajak dapat menggiring delman keluar
menyapa ayah dan anak main bersama.
Tuk tik tak tik tuk..
Suara sepatu kuda.


Selamat untuk semua anak di Indonesia.
Selamat merayakan hari besarmu, di hari anak nasional.
Rayakan dengan nyanyian seperti ayahmu dulu mengajarkanmu,
bukan lagu yang (belum) wajar kau dendang sendiri untukmu.

Minggu, 19 Juli 2009

{tanpa judul}

Yang dalam ketakutan,
seperti sesal pohon telah disirami
hingga dewasa tak dapat lincah menari;
seperti matahari menggantung saat senja,
sesal telah menyapa bumi;
seperti sesal dewi main di telaga murni,
selendang wangi dicuri pergi.


Untuk segala ketakutan malam ini.

Senin, 06 Juli 2009

SEORANG IBU



Sedari beberapa hari lalu, saya dibawa dalam sebuah aktivitas yang cukup padat - terlibat dalam sebuah pameran sekolah musik milik kawan saya; sebuah aktivitas yang sangat menguntungkan di tengah jenuh sela liburan panjang ini. Beberapa kawan lain juga ikut berpartisipasi didalamnya.


Usaha ini sendiri telah dibangunnya semenjak empat tahun lalu, dan bagi saya hal ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang sangat matang dalam pembangunan masa depan keluarga mereka. Tepatnya, esok hari sang istri akan memberikannya keturunan. Memang, kelahiran anak pertama mereka ini dijadwalkan dalam sebuah operasi cesar.

***

Sangat menyenangkan dapat melihat kedatangan mereka dalam ruang pamer sore ini. Walau sedikit mengagetkan memang, dalam jam-jam menuju proses persalinannya masih dapat mampir dan memastikan semua berjalan dengan semestinya. Dengan kemeja berpatrakan bunga, ia sangat terlihat cantik hari ini. Jalannya masih sigap, seperti kebanyakan seliweran orang yang lewat.

"Nggak istirahat di rumah?" celetuk saya.

Pertanyaan saya hanya disahuti dengan tawa sang suami. Betapa saya dapat merasakan dengan jelas perasaan sang calon ayah ini. Senyumnya lebar, yang tergambar hanya: bahagia.

Beberapa menit setelah kedatangannya, merekapun berpamit pulang. Semuanya telah tertata dengan rapi, dan mereka beranjak pergi. Tak lama kemudian mereka masih terlihat di ujung jalan, sang istri membawa sebuah kup ice cream. Pemandangan yang sama dalam dua hari ini.

***

Sebuah suasana yang menyentuh hati saya, melihat langkah seorang wanita yang dalam hitungan jam akan menjadi seorang ibu. Yang akan mendapatkan anak tak selalu sesuai dengan harapannya. Yang tak semudah ketika ia memesan sebuah kup ice cream dalam sebuah toko. Yang tak menahu rasa sayang anaknya kelak kepada dirinya.

Akan seperti apa anakku ini? Masihkah pertanyaan ini terlintas dan duduk manis dalam benaknya? Masihkah ia melirik bocah yang berseliweran lari di kejar ayahnya karena baru saja telah memukul ibunya?

Sebuah destinasi seorang ibu yang akan tetap tertulis: menerima dengan segala apa yang ada pada anak saat terlahir dari buah pinggangnya. Yang tak akan lagi terkurung lama di dalam sana, karena sembilan bulan terlalu cukup untuk meringkup bersembunyi di dalamnya.

Ibu, yang saat wanita tak akan tahu seperti apa anaknya kelak. Yang mungkin tak berbeda jauh dari anak kawannya. Yang tak pernah mendengarkan ibunya bicara, yang hanya dapat duduk mengadah kaki saat ibunya menyapu kolong kursi. Atau bahkan yang duduk menunggu di beranda klinik, sambil sesekali mengucap doa atas sesakit ibunya.

Apakah ibu masih dapat menyebut dirinya seorang ibu sebelum tersakiti?

***

Masihkah ada jeda nafas yang melegakan untuk seorang ibu? Yang mungkin akan pergi hari ini meninggalkan semua. Yang mungkin hanya meninggalkan sesal tangis dan semua sia-sia lain yang tak sejalan dengan laku lama kita. Agar juga kita tak meninggalkan kuatir pada langkah wanita yang akan sesegera menjadi ibu, untuk menanya: seperti apa anakku kelak.

Tengoklah keluar sekarang. Ada seorang ibu yang tersenyum lebar berbangga atas dedikasi anaknya. Ada seorang ibu yang duduk menangis di bangku tua panti ditinggalkan anaknya. Ada seorang ibu yang sedang meratapi anak kawannya karena tak pernah memiliki sepertinya. Dan ada seorang ibu muda yang sedang berjalan, dan penuh harap akan anaknya kelak.


Teruntuk semua ibu, yang masih yakin menjadi seorang ibu.
Dan teruntuk semua anak, yang masih ingin memiliki ibu.

Minggu, 28 Juni 2009

DALAM TEDUH

Minggu, menjadi hari yang paling saya nantikan akhir-akhir ini. Berkesempatan melihat gelak tawa dan lari kecil para bocah lugu nan lincah dalam rumah ibadah saya, adalah hal yang terindu.

Selama empat minggu ini saya telah tergabung dalam staf pengajar kebaktian anak-anak di gereja saya. Begitu antusiasnya saya akan kesempatan ini -yang dengan ketidaksengajaan datang, dan pada saat yang tepat mendapatkan ruang di hati saya. Selamat datang anak-anak, dan selamat datang bagi saya.

Minggu-minggu terlewati dengan begitu mengesankan. Setidaknya, banyak pelajaran teramat penting dari bocah seumuran mereka yang telah saya dapatkan. Kepolosan, keceriaan, ketulusan, serta kesetiaan. Melihat senyuman mereka merekah setiap minggunya, mewarnai pengalaman baru saya ini.

***

Bercermin pada kejadian duduk, dan mendengar ajaran agama yang mereka rasakan setiap minggu itu, mengembalikan saya pada perspektif masa kecil yang tak jauh berbeda dan tetap sama.

Saya tahu benar bagaimana agama itu telah ada bersama saya dan begitu melekat sejak dini. Agama yang dengan mentah saya terima, tanpa bertanya pada ayah: seperti apa agama ini? Bila saya bertanyapun, toh bocah kecil seumuran saya sewaktu itu masih belum dapat mencernanya dengan baik. Mungkin karena hal itu agama hanya menjadi label yang dibiarkan menggelayur begitu saja, bahkan mungkin tanpa kita tahu banyak dan benar.

Hal yang jelas terpatri dan melekat dalam diri saya hingga saat ini adalah eksistensi bahwa Tuhan itu sungguh ada. Dan semata-mata untuk memastikan kebenarannya, guru saya selalu berkata: bahkan ia sangat mengasihimu. Sangat klise memang, tapi begitulah adanya kita, yang semasa kecil memiliki kemampuan terbatas dan hanya diarahkan dan dituntut untuk memiliki mata iman, bahwa itulah kebenaran yang ada –tanpa tahu.

Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki. Manusia tidak berhenti pada satu titik, melainkan berjalan searah dengan keyakinannya. Agama, menjadi salah satu tantangan bagi kita -yang merasa dengan kematangan usianya masing-masing- siap untuk menanggalkan label yang tergantung begitu saja, mungkin oleh orang tua atau bahkan orang tua asuh sekalipun.

Apakah Tuhan benar ada?

Masihkah kita akan terus duduk manis dan hanya mendengar pemberitaan dalam sebuah ibadah keagamaan, dengan segala kenyamanan zona kita, dan hanya mengandalkan asal tahuMenjawabnya dengan kalimat basi: ya, karena itu yang tertulis dalam kitab kepercayaan saya.

Bukan berarti kita harus pergi menanggalkan apa yang kita percaya selama ini. Apa yang telah diberikan hanya akan menjadi makanan siap saji yang segera basi. Atau karena sesegera kita memakannya, namun kita tak pernah tahu atau bahkan tak mau tahu, nutrisi yang terkandung di dalamnya. Menyehatkankah? Atau sama sekali berkebalikan?

Keputusan untuk menanggalkan, bukan sebuah keputusan spontan yang muncul tiba-tiba. Keputusan yang bagi saya memiliki definisi waktu yang cukup lama, untuk benar-benar dapat merasakan dari dalam kejauhan hati. Apakah benar yang dikatakan kitab kepercayaan saya adalah bukan kata-kata hikmat yang meyakinkan? Melainkan keyakinan akan sebuah kekuatan magis di dalamnya, dan tak dapat dijabarkan panjang lebar atau bahkan satu kalimat sekalipun.

***

Maukah anda berteduh bukan di bawah payung milik orang lain? Bukankah sewaktu nanti, kau akan memerlukan payung bagi dirimu sendiri? Karena hujan yang semakin deras, dan payung mereka takkan cukup untuk menahan sesakmu. Kembalikan payung itu sekarang, dan cari payungmu sendiri. Mungkin dengan begitu, kau akan mengerti bagaimana berada dalam teduhnya dengan menggenggamnya sendiri, dan merasa dekat tanpa terganggu.

Rabu, 08 April 2009


MENANTI PESTA




Saya ingin ikut dalam pesta. Pesta yang dalam hitungan jam akan segera bergeming, dan nyala semangatnya telah melesat di ujung telinga saya. Menjelang berkesempatan untuk memilih secara bebas dalam periode kepemimpinan baru di Indonesia, saya dibuat kecewa luar biasa ketika mendapati nama saya absen dari serentetan daftar nama pemilih dalam pemilu esok hari. Nama saya seakan terhapuskan dengan rapi: TIDAK ADA KESEMPATAN UNTUK MEMILIH; TIDAK ADA KESEMPATAN BERPESTA, BERDEMOKRASI.

Saya tidak sok suci ingin berdiri seakan dapat menjadi orang nomor satu yang peduli pada negri ini, yang sok ingin memilih dan menganggap satu suara yang saya genggam dapat membawa perubahan. Saya hanya ingin memastikan bahwa telinga saya masih sangat amat berfungsi, dengan seluruh saraf ruet di dalamnya yang masih terhubung dengan saraf lain kesadaran saya bahwa ada sesuatu yang salah, yang tak beres dalam sebuah pesta tuan rumah ini yang hanya dapat dirasakan beberapa tahun sekali visitasinya.

Suatu kehormatan bagi saya ketika dapat berkeluh tentang sistem demokrasi yang masih nyandet, tanpa kepekaan yang jelas dari atas, yang menganggap semuanya lancar, lancar dan lancar. Dengan bermodalkan berlembar-lembar kertas bernilai tinggi -yang membutakan banyak mata para tetua hingga hijau keruh tak abu- dengan seperangkat keyakinan bahwa kekuatan magis barang itulah yang akan merobot gerak kerja sebuah sistem dengan nama: ATURAN. Untuk sebuah kesatuan negara yang sudah cukup berusia, pastinya ini bukan sebuah bahan eksperimental lagi kan?

Berikan saya jeda untuk sesekali bersuara, walau sekarang hanya bersua: ya, sudah mau bagaimana. Saya tidak ingin ada 'ya sudah, ya sudah' yang lain. Bukan menyoal 'ya sudah' yang berkonotasi: sangat merelakan. Lebih dari itu, keinginan yang besar untuk ingin ikut berpesta bersama, dalam bahagia yang tak dirasakan (mungkin) dalam sebuah pesta ulang tahun saat kecil dulu dengan seorang penghibur: badut.

Tidak ada badut yang ingin saya cari disana, tetapi senyuman seliwer orang yang datang menyokong indonesia dengan sejumput keyakinan akan perubahan dan dengan sekuat pikiran serta gerak tangan mereka saat menandai salah seorang yang tak unggul, tapi dapat dipercaya untuk konsistensinya dalam berdiri menjaga, bukan duduk melamun.

***

Selamat berpesta untuk semua yang terundang. Selamat berbahagia untuk sehari yang tertunggu sedari lama. Dan selamat berjuang untuk yang berdiam menunggu pesta, demi sebuah undangan yang telah tertulis tapi tak terkirim. Cukup berdoa, semoga tak salah alamat.


Gambar di ambil dari: http://www.ishr.org/?id=839

Senin, 16 Maret 2009

MENYIMPUL MINGGU



Kau datang pada siangku,

ketika hari dan dirimu kusebut: minggu.


Kau minggu yang abnormal untukku.

Kita yang duduk selingkar dengan sebulat donat

dan segelas segar teh hijau.

Sesekali bermain tawa kecil,

sesekali beradu senyum.


Kau minggu yang penuh nada untukku.

Kau minggu yang manis dan tak sepi,

minggu yang membuka telinga

dari keramaian pikiranku.


Kau menyambung nyawaku hari itu.

Hampir saja aku tertidur berdiri ditengah jalan

yang mungkin akan menjadi hal teraneh bagi semua orang.

Namun kau yang menyambung setiap detik sarafku,

yang membuat pelipit mataku terbuka tetap

dan tertawa bersamamu.


Seringkali kau berbohong padaku

yang tak berkata lelah sekalipun,

hingga kumendapatimu menguap di depanku.


Kau minggu yang kucari selama ini.

Minggu yang tak hanya merayakan istirahat seminggu lelahku.

Kau minggu sebelum sabtu yang tertunggu

di depan hari yang hampir menjengukku.

Kau yang kusebut dengan: minggu.


Maukah kau membuat

seninku, selasaku, rabu, kamis, jumat dan sabtuku

seperti mingguku ini?


Aku ingin duduk,

dan tersimpul manis denganmu.


Catatan di sebuah minggu bersamamu

Rabu, 11 Maret 2009

PULANG



Hari-hari ini terasa aneh bagiku.

Meminum teh di pagi hari tanpamu,

dan menghabiskan makan malam bersama tanpamu.


Begitu bodohnya aku mengijinkan keegoanku ada untuk membencimu.

Merasa aku adalah nomor satu yang tahu akan kebenaran.


Kemana kau pergi?

Jangan berpetualang terlalu jauh.

Aku takut kau jatuh dan terluka.


Tersadarnya aku sekarang.

Yang tak pernah merasa mempunyai saat kau ada.

Tersadar aku akan nina bobo yang menemaniku setiap malam,

yang bukan hanya nyanyian hari di telingaku

namun keberadaanmu di depanku.


Saat kau tak pulang malam ini,

gelisah memarahiku di tengah ringkup sedihku.

Serasa aku tak punya hati untukmu.

Tak punya cukup waktu untuk mengertimu,

di tengah masalah yang menemanimu.


Bolehkah maaf itu ada menghampirimu saat ini?

Pulanglah ke rumah,

aku tunggu malam ini.



Suara hati yang terdalam

11 Maret 2009, 21.36

Senin, 16 Februari 2009

SEMALAM BULAN



Di dalam sebuah perjalanan bermil-mil jauhnya yang tak terhitung oleh mata,
yang berpetak-petak sawahnya terbentang
dan beribu tegak pohon bergerak menyentuh langit,
Di luar jendela kendaraan liburan ini
langit yang kuintip tetaplah sama.
Sebuah lingkaran bulan kecil yang ada di atas atap rumah
yang awannya berlari kecil mengelilinginya,
yang sinarnya meneduhkan mata,
menggelitik tanganku untuk meraihnya.

Dan mungkin di tempat bermil-mil jauh disana
di sebuah kendaraan liburan lain,
lingkaran bulan kecil itulah yang dilihatnya
yang tak berubah jauh arahnya,
yang tak lebih redup sinarnya
dan goyah roda kendaraanpun tak menggesernya.

Dan di sini,
takkan ku rayu orang di belahan bumi manapun
untuk sebuah bulan di atas kepala untuk diberi
karena bulan yang sudah ada untuknya,
yang selalu adil terbagi
dan tak sedikitpun luput dari langitnya.

Caruban, 8 Februari 2009 | 23:53 WIB

Gambar diambil dari www-aos.eps.s.u-tokyo.ac.jp/~furu1/MoonLight2.JPG

Minggu, 04 Januari 2009

KEZIA NAIK TIANG LISTRIK!


Reuni semalam membawa saya pada
sebuah pertemuan pendek dengan kezia.

Kezia.
Perempuan lugu itu sudah gede ternyata.
Sudah bisa pakai sepatu tinggi,
menari disko kecilpun lincah.

Kabarnya, sudah tunangan dengan lelaki impiannya.
Pulangnya pun malam-malam.
Sudah bisa cari duit berdua ternyata. Mau kawin.

“Oh, pantas.”
Kemarin saya lihat dia main-main di ujung perumahan.
Di dekatnya ada tiang listrik berkabel ruet.
Tanpa alas kaki, ia mencoba menarik tubuhnya ke atas.
Sepertinya licin.
“Kez, nggak pakai tangga?”
Nanti saja, belum beli.
“Kenapa?”
Mahal. Cari duit dulu.

Dan Keziapun terjatuh.
Naik lagi.
Jatuh lagi dan berdarah (kali ini).
Kezia terbangun. Oh, ternyata mimpi.
Dilihatnyalah sebuah tulisan di seberang ranjangnya.
Merah menyala tertulis dari gincu.
“KEZ, HATI-HATI KESETRUM!”
Dan kecup bibir mengakhiri pesan itu.



***

Sampai kapan saya harus melihat buntalan kertas di laci meja belajar saya tanpa dibuang atau seorangpun tahu? Apalagi menyangkut hal se-krusial ini. Inflamasi paling lama di bumi saya sendiri: mengenai sahabat. Entah pantas atau tidak, layak atau tidak layak, menunjukkan sebuah puisi yang anda pikir aneh. Ya, aneh. Tetapi saya tidak berusaha menjadi aneh. Saya hanya mengalir dengan kisah seorang kezia. Tidak memaksa diri menjadi bijak dengan berbicara masalah rumah tangga. Saya hanya menggambarkan apa yang ada di benak saya. Tanpa mencoba mengutek kisah itu.

Selamat untuk pertunangan kalian berdua. Walau sampai saat ini, saya masih sangat penasaran dengan magnet cinta yang luar biasa dasyatnya yang dirasakan kezia. Seperti kisah kolosal nenek-nenek tua tentang cinta: ketika datang, jangan harap anda bisa berkutik. Ya, mungkin saya belum bisa merasakannya. Atau untuk meraba sekalipun. Nanti saat tiba waktunya, tentu saya akan katakan pada kezia. Saya akan tahu dengan jelas, mengapa kezia bisa dibawa lari olehnya.


Sabtu, 03 Januari 2009

HARI YANG BIASA SAJA, DI JANUARI YANG BARU.

Entah mengapa, tiga hari yang lalu tepat pada saat pergantian tahun menuju 2009, serasa begitu aneh bagi saya. Atau kata lain apalah yang dapat menjabarkan hari itu: biasa saja. Tidak ada rasa senang atau uforia apapun yang (biasanya) terasa pada saat tahun akan berganti.


Tiga puluh satu Desember pagi saat terbangun, saya menulis pada sebuah buku yang baru saja saya beli. Menulis apapun yang saya rasakan sewaktu saya terbangun di pagi hari, dengan sebuah harapan saya akan menulis sebuah mantra harian yang spontan dan dapat menjadi penuntun saya dari hari ke hari. Dan bergeraklah saya menuju nakas tumpuk di seberang kasur sana, dan menyahut buku bertuliskan Enjoy your holiday itu.

Singkat kata, tulisan dengan hanya berisikan beberapa baris itu saya sudahi. Pada ujung kertas tersebut –sambil melihat kalender di atas nakas– saya akhiri dengan menulis jam dan tanggal hari itu.

Pk. 09.24, 31 Desember 2008
Di hari pertama aku memutuskan untuk melupakannya.


Berselang sekitar lima detik sesudah pensil saya terangkat, sekejap bola mata saya tersambar pada angka 31, kemudian desember, dan kemudian 2008. Begitu kagetnya saya dengan sederet tanggal itu. Maklum, sudah beberapa minggu ini saya berpergian tanpa tahu tanggal bahkan hari apa pada hari itu. Liburan cukup membuat penyakit kronis saya kambuh: lupa. Tidak ada juga jadwal harian pasti selama liburan ini, semuanya mengalir. Bahkan untuk merayakan akhir tahun sekalipun –belum ada atau bahkan tak terpikirkan sedikitpun. Otak saya mulai berputar. Saya baru saja menyadari bahwa tahun akan segera berganti, 2008 menjadi 2009.

Bukankah hari itu seperti hari yang biasa saja?

Mungkin tidak ada perubahan yang berarti di januari yang baru. Hanya di setiap deret tanggal yang ditulis nantinya, tidak akan ada lagi tertulis angka 2008 tetapi 2009. Bukankah setiap hari hal-hal sekecil itu pasti terjadi? Tanggal selalu bertambah. Bulanpun demikian. Mengapa orang-orang merasa begitu tak sabarnya menuggu detik-detik pergantian hari itu? Bukankah hari sebelumnya tidak demikian? Mengapa mereka hanya merayakan yang kemarin?

***

Jam-jam menuju 2009 pun semakin dekat. Namun kegiatan hari itu begitu biasa saja. Hanya berpergian sebentar di salah satu mall, kemudian pulang tanpa satupun dibawa pulang.

Menyadari hari makin larut dan malam segera berakhir, dan dengan sebuah perbincangan singkat bersama sahabat saya di telepon sewaktu itu: nek turu yo nggak seru lah! Wong taon baruan kok.. (Kalau tidur ya nggak seru, kan ini sedang tahun baru..), sederet rencana pun mulai terpikirkan untuk mengakhiri tahun ini. Dengan sebuah catatan: sebagai rutinitas belaka. Ajakan dari kerabatpun mulai berdatangan. Mulai dari merasakan pergantian tahun dalam bioskop, hingga acara BBQ tahunan sahabat-sahabat saya. Namun dari sederet rencana yang sekejap datang bertubi-tubi, tak ada satupun yang begitu menggiurkan. Semua terasa datar dan mentah. Dan dengan segala pertimbangan yang ada, saya memastikan untuk tidak berpergian dari kota saya hari itu. Sebuah persekutuan dengan Tuhan di gereja, akan menjadi penutup tahun yang sempurna –saya pikir. Biarlah sebuah pertemuan denganNya malam ini, akan menutup perjumpaan saya dengan 2008, dan memberi pandangan pertama yang manis pada 2009.

Setiba dalam gereja – 2 jam menjelang 2009
Doa singkat menghantar saya pada perjalanan menuju kursi yang akan saya duduki di bagian depan dekat mimbar. Sangat singkat dan tiba-tiba.

Hari ini sungguh biasa, Tuhan. Tetapi terimakasih untuk ini.

Dan tibalah saat untuk beribadah.

10 menit menjelang 2009
Mata saya terbuka, dengan sepotongkecil roti di tangan kanan dan segelaskecil anggur di tangan kiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gereja saya selalu mengakhiri detik pergantian tahun dengan perjamuan suci.

Segala sisa waktu yang ada di 2008 itu digunakan untuk memuji dan menyembahNya. Dan membawa saya pada sebuah perjumpaan yang indah. Hal itu sekaligus melengkapi doa singkat saya tadi sewaktu berjalan menuju tempat duduk dekat mimbar.

Hari ini sungguh biasa, Tuhan. Tetapi terima kasih untuk ini. Kesempatan untuk mengetahui sesuatu yang seharusnya luar biasa, menjadi biasa saja. Kesempatan ini mengubah usia dunia yang kuketahui. Bukan lagi 2, 0, 0, dan 9. Tetapi berjalan alon dengan detik yang kulalui. Bukankah besok masih tahun baru Tuhan? Ya, besok tahun baru lagi. Lusa tahun baru lagi. Begitu juga dengan selanjutnya. Walau hari ini biasa saja, namun masih ada kesempatan yang tersisa untuk merayakannya. Ada banyak hari yang masih siap untuk dirayakan. Ya, terima kasih Tuhan.

Doa itu menutup perjumpaan saya dengan 2008. 2009 telah mengulurkan tangannya, dan siap untuk berkenalan dengan saya. Sangat manis dan luar biasa.

Saya menggandeng 2009 keluar ruangan, dan menunjukkan dunia yang baru padanya. Selamat datang di duniaku.

***

Di januari baru pukul 6 pagi
Saya berada di luar rumah, siap untuk mengantar sahabat perempuan saya untuk pulang sesudah semalam tadi saya bersama teman-teman gereja menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama.

Dalam perjalanan, saya memandang sekitar tanpa berhenti. Hanya ada beberapa aktivitas kecil yang terlihat, sangat sepi. Cuaca hari itupun masih sangat lembab, maklum, malam tahun baru ini dihiasi hujan. Saya memandang wajah seluruh orang yang melintas di depan saya. Apa yang sedang mereka pikirkan tentang januari yang baru ini? Luar biasa atau biasa saja seperti yang saya pikirkan? Ah, biar itu menjadi PR untuk mereka sendiri.

Kendaraan saya sudah mendekati perumahan menuju ke rumah sesudah mengantar sahabat saya itu. Saya memutuskan berhenti sejenak, mengambil kamera yang sempat saya cangking di atas meja tadi sebelum berangkat, dan diabadikanlah suasana januari yang baru itu, yang biasa saja.

Di balik gerimis kecil pagi ini,
matahari berpamit pergi ke pelukan bumi.
Seberkas kecil sinarnya terbias manis di rerumputan.
Saya duduk di beranda rumah
ditemani secangkir teh yang hangat.
Di jauh sana, di bawah kakilangit nampak sayu-sayu bias cahaya
yang mewarna wajah bumi dengan indah.

Seorang datang menyampaikan kertas beramplop merah.
”Oh, utang lagi-utang lagi!”

Ternyata hari ini hari yang biasa saja.


***

Selamat Tahun Baru, walau hari itu hari yang biasa saja.
Siapkan hari yang baru, yang bisa jadi hari yang luar biasa.