Kurang dari dua minggu lagi, kita akan segera menutup tahun. Saya teringat sebuah rangkaian kata sambutan di akhir perkuliahan saya dulu. Mungkin ini salah satu hal yang paling membekas dalam hidup saya, dapat memberikan pesan atau nilai kehidupan bagi orang banyak pada kala itu. Dan membacanya kembali, memberikan semangat bagi saya untuk bersiap memulai tahun yang baru. Ini salah satu hal yang mungkin bisa jadi anda tertawakan atau biasa saja, tetapi melalui blog ini saya banyak berharap bukan hanya orang-orang di kala itu yang mendengarkan ketika saya berdiri di depan banyak orang, tetapi anda juga bisa mendapatkan sesuatu. Selamat membaca.
***
Yang terhormat, Senat Universitas, Segenap Pengurus Yayasan
Perguruan Tinggi Kristen Petra, Pimpinan, Dosen, & Karyawan Universitas
Kristen Petra, serta yang berbahagia para wisudawan dan keluarga.
Salah satu akhir
dalam fase kehidupan kami, yaitu jenjang perkuliahan telah sampai pada hari
ini. Suatu hal yang saya atau sahabat-sahabat sekalian disini tak pernah
percaya sebelumnya bahwa dapat menyelesaikan empat tahun yang panjang dengan
sangat baik. Sebuah proses panjang di Universitas Kristen Petra yang telah
terlalui dan membawa kami hingga jauh kemari, merefleksikan sebuah pembelajaran
yang akan diingat sampai nanti. Banyak yang berpikir bahwa perkuliahan hanya
salah satu pengisi waktu luang atau sebatas kebutuhan gelar untuk tetap
dipandang masyarakat sebagai orang yang berpendidikan. Hal itu jauh dari
pemikiran saya, yang sangat menghargai masa perkuliahan dimana saya terlibat
didalamnya, mendapatkan proses pembelajaran yang paling berharga yaitu dari
tidak tahu menjadi tahu.
Suatu ketika
dosen saya pernah berkata bahwa kecerdasan bukan hanya mengenai perolehan
nilai, menjadi nomor satu atau hal akademis lainnya. Namun belajar untuk
berbagi, bahwa ilmu tidak hanya milik sendiri. Kuncinya, menjadi berprestasi
namun tetap peduli dan rendah hati. Disinilah saya juga belajar banyak bahwa
iman dan ilmu dapat jalan seiring. Saat ini, tidak ada yang mengerti suatu saat
seperti apa saya dan seluruh sahabat disini akan menjadi. Namun proses belajar
dan berorganisasi disini telah mengisi penuh amunisi untuk bekal di depan
kelak.
Sebuah pegangan
atau amunisinya telah Saya dan teman-teman semua dapatkan. Amunisinya adalah untuk
selalu bertanya, belajar, dan hidup.
Saya bertumbuh dalam keluarga yang menuntut kemandirian. Mama saya tidak pernah
menuntut untuk saya belajar. Papa saya tidak pernah menuntut untuk saya terus
bertanya. Namun mereka telah mengajarkan saya bagaimana kehidupan itu, sehingga
seiring berjalannya waktu, semua itu berbalik kepada saya sendiri untuk
mempertanyakan, mempelajari dan selanjutnya menikmati hidup yang luar biasa.
Life is one long learning process. Setelah ini
saatnya kita terus belajar dan berusaha meskipun mungkin tidak melulu benar. Setelah
ini saatnya untuk terus mengumpulkan kesalahan, dalam arti belajar dan selalu
mempertanyakannya. Seperti yang dikatakan Socrates: “Hidup yang tak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang
tak pernah layak untuk diteruskan”. Jadi bertanyalah, belajarlah, sampai
akhir hidup kita, karena kenaikan jenjang kita saat ini bukanlah berarti kita
telah paham segalanya. Ketika kita berhenti belajar dan bertanya, kita mati.
Jadi pilihannya, bertanya atau mati?
Terimakasih yang
paling terutama, yang mengawali dan mengakhirinya dengan sempurna, Tuhan Allah
Bapa. Terimakasih sebesar-besarnya untuk papa mama, untuk setiap doa yang
dipanjatkan senantiasa untuk kami, untuk senyuman, pengertian dan kepercayaan
kepada kami. Terimakasih untuk segenap bapak/ibu dosen dan karyawan yang telah
membimbing kami, yang selalu mengingatkan kami bahwa hidup adalah saling memberi.
Terimakasih kepada semua sahabat-sahabat untuk segala hal yang telah kita lalui
bersama selama ini, atas semua pengalaman yang akan kuingat sampai tua nanti.
Pada akhirnya,
ingatkan kami para wisudawan, jika suatu saat kami telah mencapai satu titik
tinggi yang bahkan kami sendiri tak pernah menduganya, jangan pernah takut
untuk menarik telinga kami, menyadarkan dari kesombongan diri kami bahwa kita
masih berdiri di atas bumi yang sama dan di bawah langit yang sama. Hidup dalam
kerendahan hati, bukan kesombongan diri.
Selamat hidup
yang memukau teman-teman: bertanyalah,
belajarlah, dan hiduplah!
Lianggono Susanto (41407063)

2 komentar:
What a great story. Thx for sharing..
Terimakasih Citra!
Posting Komentar