Selasa, 15 Mei 2012

OTAK-ATIK OTAK


Otak itu seperti ruang bagi anak kecil yang sedang bereksperimen dengan dinosaurus hijaunya, agar dapat meletakkannya pada sekat dekorasi di dinding kamar bermain. Ia mengikatkan dinosaurus itu melalui tali kecil penarik ulur truk angkut mainan, agar dinosaurus dapat mencapai sekat itu.

Ruang itu awalnya kosong, tetapi ruang itu kemudian dibongkar, seperti anak kecil yang bertanya: bi, itu siapa? | Itu teman bapak, dek. | Ngapain disini? | Tadi bapak habis olahraga sama dia. | Kok dia nggak sama anaknya, bi? | Bibi nggak tahu, dek. | Kumisnya kok lucu? | ……………  Anak kecil tak akan lelah menguak.

Katanya, otak harus diberantakkan. Katanya, Otak itu lahan bermain.

***

Sekiranya, perbincangan dengan Aditya Novali, seorang seniman multi dimensi Indonesia yang beberapa bulan saya temui itu berhasil membuka langit pikiran saya. Ia adalah seorang seniman yang sempat saya anggap enteng, tetapi siang itu mengubah segalanya. Saya menemuinya untuk keperluan sebuah bahan tulisan. Aditya awalnya seorang arsitek. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Conceptual Design di Design Academy Eindhoven, Belanda.

Ia menceritakan kisah-kisah yang terdengar ringan, tapi bermakna dalam. Kematangannya membuat saya berpikir mengenai lingkungan tempat ia belajar. Iapun menodong otak saya untuk membahas pendidikan di Indonesia dan Belanda. Sebagai lulusan universitas yang disebut-sebut sebagai best design academy in the world, ia menceritakan pelajar Belanda (bukan karena perintah) secara berkala akan ‘mengobrak-abrik’ otaknya sendiri.

Saya teringat saat berkuliah di Surabaya, bagaimana teori desain yang begitu rumit diwajibkan untuk dihafal. Perintah yang kaku, literatur cepat saji. Otak seakan dijajah. Disaat pengajar Belanda meruntuhkan pembatas untuk berada pada ‘strata’ yang sama dengan pelajar. Bertukar pikiran bersama, interupsi yang ‘halal’ hingga pengajar yang humble untuk mengakui ketidaktahuannya atas jawaban dari pertanyaan pelajar yang terlampau kritis.

Ia menambahkan, bermain-main pada ruang otak itu, juga tidak menuntut kita untuk mengembalikannya seperti semula. Chaotic has the own  beauty if you come across, they said.

Saya mengerti, mungkin ini juga yang mengantarkan StudioJob, duo desainer asal Belanda Job Smeets dan Nynke Tyagel lulusan dari Design Academy Eindhoven kerap memecah keheningan dunia desain. Sebagai seorang yang bergelut dalam dunia seni dan desain, saya (dan mungkin Anda) tidaklah asing dengan karyanya. Hampir setiap objek yang lahir merupakan ikon atau arketipe sederhana, namun memecah logika teori desain kontemporer.

Kiri ke kanan: Pouring Jug, Studio Job. Aplikasi grafis simbol industri dari Studio Job pada catwalk Victor & Rolf Fall/Winter 2010.

 Salah satu meja karya Studio Job.

Pelaku desain lain asal Belanda yang telah berhasil, sebut saja fashion brand dunia Viktor & Rolf, MarcelWanders –Creative Director MOOOI, Tord Boontje, Maarten Baas dan banyak lainnya, adalah jajaran desainer eksperimental yang memiliki dunia ‘gila’nya dan tak takut untuk menuturkan ide. Karya-karya mereka telah mendunia dan menjadi jajaran ikonik, dari hasil otak-atik otak, budaya pendidikan yang baik dari Belanda. Jadi, sampai kapan otak kita terus akan dituntun?

***

Tulisan ini untuk mama dan papa. Yang dari semenjak kecil hingga detik ini, mereka tak pernah membahas otak saya harus ‘menjadi’ dan seperti apa. Tetapi semalam tadi menelpon, katanya, ‘sukses ya nak, semoga bisa menang.’. Dan otak sayapun menemukan jalannya.

Sumber gambar:
Studio Job Press Area
Sumber lain:

Senin, 14 Mei 2012

i said, one day

 
i strongly encourage myself to go here. one day. 







and it feels, all time low. i guess.