Setiap tahun saya tidak memiliki kisah mudik seperti kebanyakan orang, mengingat Kota yang saya singgahi adalah Kota asal dari keluarga besar saya sendiri. Iri memang, namun beruntungnya saya memiliki asupan cerita mudik wajib tiap tahun dari sahabat terdekat saya. Kami yang berjumlah enam orang telah bersahabat sejak kecil. Kami adalah sekumpulan orang lintas etnis yang beragam dan bahagia dengan perbedaan kami. Inilah juga yang membuat kami sering bertukar pikiran dan berbagi cerita. Cerita mudik ini kemudian datang dari Dyan yang berasal dari Madiun.
Dyan sendiri tidak begitu banyak memahami mengenai isu lingkungan
saat ini secara kompleks. Namun saat Dyan berbagi cerita mudiknya, ada beberapa
hal yang cukup menarik dan merefleksikan manusia yang masih menghargai alamnya. Ada tiga hal baik yang saya catat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua:
1.
Seperti cara mudik layaknya masyarakat luas, Dyan dan
keluarganya masih memilih jalan darat yaitu dengan mobil pribadi. Berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya, peserta dalam mobil keluarganya bertambah. Ada dua
orang tetangganya yang bergabung menuju ke Kota yang sama. Selain mengurangi
kepadatan arus mudik dan dapat bercengkerama bersama, hal ini juga sangat
berpengaruh baik bagi lingkungan. Pergi bersama-sama dalam satu mobil dapat menghemat
penggunaan bahan bakar fosil. Setiap satu liternya yang dibakar dalam mesin
mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Konsentrasi selimut gas tersebut secara ekstrem di
atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu bumi secara global. Belum lagi bila seluruh
masyarakat Indonesia yang mudik memilih jalan udara. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change
(IPCC), penerbangan dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca. Lebih besar
pengaruhnya dibandingkan jalan darat yaitu, bus, mobil, motor atau kereta. Jadi,,
apa salahnya bila kita bisa bergabung bersama bila memungkinkan dan menggunakan
cara konvensional yang akan jauh lebih mengakrabkan?!
2.
Bertemu dengan sanak saudara hingga sahabat kecil kita adalah
hadiah sederhana yang paling indah saat dapat pulang kampung halaman. Begitu
juga ketika Dyan dapat bertemu dengan Nenek, Bude (tante), dan keluarga
lainnya. Ada satu ‘harta karun’ yang selalu Dyan bawa saat mudik selain
oleh-oleh khas Kota tempat tinggalnya saat ini. ‘Harta karun’ itu adalah pakaian
yang telah tak terpakai dan masih dalam kondisi baik. Mungkin banyak dari kita
yang berpikir bahwa hal ini tidak pantas, namun bila berpikir jeli tradisi ‘harta
karun’ Dyan dapat menjadi kado istimewa bagi keluarga dan khusunya bagi bumi. Emisi
karbondioksida–hasil proses produksi, konsumsi dan distribusi yang tak
terkontrol akan kebutuhan masyarakat dalam ranah industri menyumbang 20% gas
emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar
fosil. Salah satunya produksi bahan sandang.
Penulis Dewi Lestari pernah menuliskan, “atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup
dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih”. Ketidakpuasan manusia
membuat mereka merelakan uangnya masuk dalam laci kasir boutique setiap minggu. Bisa sekarang juga kita menengok ke lemari
kita, ada berapa baju yang tak terpakai, tidak muat lagi atau sudah bosan
dipakai? Meneruskan perjalanan jauh pakaian itu–mulai dari masih berupa kain
panjang, proses produksi, dilempar ke toko, hingga saat ini berada di tangan
kita dan tak terpakai–dengan meneruskannya ke tangan orang lain yang menginginkan
(atau membutuhkan), maka keluarga pewaris ‘harta karun’ itu setidaknya
mengurangi jumlah konsumsi terhadap kebutuhan sandang. Kita juga membantu
proses produksi sedikit mengerem lajunya karena ‘harta karun’ yang terus kita
putar.
3.
Berpergian jauh dari rumah selalu menuntut kita untuk tetap mencukupi
kebutuhan yang kita butuhkan. Misalnya saja di tengah perjalanan mudik kita
beristirahat dan mampir swalayan untuk membeli minuman, snack dan lain
sebagainya. Dyan adalah salah satu sahabat saya yang selalu konsisten untuk
menolak kantong plastik di setiap belanjanya. Hingga mudikpun, hal ini juga
terbawa. Tuntutan untuk selalu konsumtif setiap mudik/liburan yang merugikan nyawa
lingkungan tertolong dengan sikap ini. Bayangkan bila ribuan peserta mudik
seluruh masyarakat Indonesia menolak kantong plastik dalam setiap belanjanya dan menggunakan tas belanja sendiri.
***
Mudik merupakan suplemen liburan bagi kita. Mengunjungi tanah asal yang masih bebas polusi, merasakan wangi tanah yang masih harum, sebuah
rekreasi yang melegakan. Mudik/liburan bisa juga dekat dengan sikap yang apatis
dan sembrono bila kita menutup telinga dan berpura-pura tidak melihat penderitaan
bumi. Mudik harus dekat dengan efisiensi dan efektivitas, ide baru yang cerdas serta
tanggung jawab dan komitmen akan lingkungan. Seperti yang telah dilakukan Dyan, saya belajar berpergian
bersama (bila memungkinkan) dan dengan cara konvensional akan jauh lebih baik; ide ‘harta karun’ yang harus terus berpindah
tangan; serta komitmen menolak kantong plastik walau sedang mudik/liburan
sekalipun. Pada akhirnya, semua akan kembali ke alam. Manusia dari tanah, dan
akan masuk kembali ke tanah. Manusia dilahirkan dengan segala kebebasan, tetapi kebebasan tersebut masih dalam ranah untuk bersikap arif dan bijak dan tak asal terhadap lingkungan. Jika bukan kita yang bertindak, siapa lagi?
Referensi
Akmal,
Imelda. Hemat Energi. Seri Rumah Ide Edisi 1 No. IV. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2009
Gambar | axioo
Gambar | axioo
