Sabtu, 22 Oktober 2011

Kembali Ke Tanah Asal, Bersikap Bagi Bumi Yang Tak Asal



Setiap tahun saya tidak memiliki kisah mudik seperti kebanyakan orang, mengingat Kota yang saya singgahi adalah Kota asal dari keluarga besar saya sendiri. Iri memang, namun beruntungnya saya memiliki asupan cerita mudik wajib tiap tahun dari sahabat terdekat saya. Kami yang berjumlah enam orang telah bersahabat sejak kecil. Kami adalah sekumpulan orang lintas etnis yang beragam dan bahagia dengan perbedaan kami. Inilah juga yang membuat kami sering bertukar pikiran dan berbagi cerita. Cerita mudik ini kemudian datang dari Dyan yang berasal dari Madiun.

Dyan sendiri tidak begitu banyak memahami mengenai isu lingkungan saat ini secara kompleks. Namun saat Dyan berbagi cerita mudiknya, ada beberapa hal yang cukup menarik dan merefleksikan manusia yang masih menghargai alamnya. Ada tiga hal baik yang saya catat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua:
 
1.
Seperti cara mudik layaknya masyarakat luas, Dyan dan keluarganya masih memilih jalan darat yaitu dengan mobil pribadi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta dalam mobil keluarganya bertambah. Ada dua orang tetangganya yang bergabung menuju ke Kota yang sama. Selain mengurangi kepadatan arus mudik dan dapat bercengkerama bersama, hal ini juga sangat berpengaruh baik bagi lingkungan. Pergi bersama-sama dalam satu mobil dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil. Setiap satu liternya yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Konsentrasi selimut gas tersebut secara ekstrem di atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu bumi secara global. Belum lagi bila seluruh masyarakat Indonesia yang mudik memilih jalan udara. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), penerbangan dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca. Lebih besar pengaruhnya dibandingkan jalan darat yaitu, bus, mobil, motor atau kereta. Jadi,, apa salahnya bila kita bisa bergabung bersama bila memungkinkan dan menggunakan cara konvensional yang akan jauh lebih mengakrabkan?!

2.
Bertemu dengan sanak saudara hingga sahabat kecil kita adalah hadiah sederhana yang paling indah saat dapat pulang kampung halaman. Begitu juga ketika Dyan dapat bertemu dengan Nenek, Bude (tante), dan keluarga lainnya. Ada satu ‘harta karun’ yang selalu Dyan bawa saat mudik selain oleh-oleh khas Kota tempat tinggalnya saat ini. ‘Harta karun’ itu adalah pakaian yang telah tak terpakai dan masih dalam kondisi baik. Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa hal ini tidak pantas, namun bila berpikir jeli tradisi ‘harta karun’ Dyan dapat menjadi kado istimewa bagi keluarga dan khusunya bagi bumi. Emisi karbondioksida–hasil proses produksi, konsumsi dan distribusi yang tak terkontrol akan kebutuhan masyarakat dalam ranah industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Salah satunya produksi bahan sandang.

Penulis Dewi Lestari pernah menuliskan, “atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih”. Ketidakpuasan manusia membuat mereka merelakan uangnya masuk dalam laci kasir boutique setiap minggu. Bisa sekarang juga kita menengok ke lemari kita, ada berapa baju yang tak terpakai, tidak muat lagi atau sudah bosan dipakai? Meneruskan perjalanan jauh pakaian itu–mulai dari masih berupa kain panjang, proses produksi, dilempar ke toko, hingga saat ini berada di tangan kita dan tak terpakai–dengan meneruskannya ke tangan orang lain yang menginginkan (atau membutuhkan), maka keluarga pewaris ‘harta karun’ itu setidaknya mengurangi jumlah konsumsi terhadap kebutuhan sandang. Kita juga membantu proses produksi sedikit mengerem lajunya karena ‘harta karun’ yang terus kita putar.

3.
Berpergian jauh dari rumah selalu menuntut kita untuk tetap mencukupi kebutuhan yang kita butuhkan. Misalnya saja di tengah perjalanan mudik kita beristirahat dan mampir swalayan untuk membeli minuman, snack dan lain sebagainya. Dyan adalah salah satu sahabat saya yang selalu konsisten untuk menolak kantong plastik di setiap belanjanya. Hingga mudikpun, hal ini juga terbawa. Tuntutan untuk selalu konsumtif setiap mudik/liburan yang merugikan nyawa lingkungan tertolong dengan sikap ini. Bayangkan bila ribuan peserta mudik seluruh masyarakat Indonesia menolak kantong plastik dalam setiap belanjanya dan menggunakan tas belanja sendiri.

***

Mudik merupakan suplemen liburan bagi kita. Mengunjungi tanah asal yang masih bebas polusi, merasakan wangi tanah yang masih harum, sebuah rekreasi yang melegakan. Mudik/liburan bisa juga dekat dengan sikap yang apatis dan sembrono bila kita menutup telinga dan berpura-pura tidak melihat penderitaan bumi. Mudik harus dekat dengan efisiensi dan efektivitas, ide baru yang cerdas serta tanggung jawab dan komitmen akan lingkungan. Seperti yang telah dilakukan Dyan, saya belajar berpergian bersama (bila memungkinkan) dan dengan cara konvensional akan jauh lebih baik; ide ‘harta karun’ yang harus terus berpindah tangan; serta komitmen menolak kantong plastik walau sedang mudik/liburan sekalipun. Pada akhirnya, semua akan kembali ke alam. Manusia dari tanah, dan akan masuk kembali ke tanah. Manusia dilahirkan dengan segala kebebasan, tetapi kebebasan tersebut masih dalam ranah untuk bersikap arif dan bijak dan tak asal terhadap lingkungan. Jika bukan kita yang bertindak, siapa lagi?
                  
Referensi
Akmal, Imelda. Hemat Energi. Seri Rumah Ide Edisi 1 No. IV. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009
Gambar | axioo