Rabu, 14 September 2011

LET IT GO



Siapa yang tak mencintai orangtuanya? Bisa jadi saya adalah orang yang bisa anda tuduh. Saya bertumbuh dengan kondisi senang yang tak instan. Melalui susah yang kecil-kecil hingga besar. Capek sekali rasanya, tapi saya bersyukur sekali. Dulu, saya jarang memikirkan bagaimana bisa menyenangkan orangtua. Sampai pada satu kesempatan, saya tau kenapa harus menyenangkan mereka, dan menyadari bahwa saya belum secara full-time menyayangi mereka.

Gong-nya adalah sebuah keputusan terhebat yang pernah saya ambil di hari setelah pertengkaran besar dengan papa saya. Saya sering bertengkar, adu argumen sampe ngotot, yang pada akhirnya berujung pada tidak saling menyapa. Tidak jarang dan sering hal itu terjadi. Masalahnya sering lahir dari hal kecil; semisal sewaktu kecil saya sering merengek di depan umum yang membuat papa saya marah dan memukul saya. Seperti itulah.

Keputusan besar itu lahir secara iseng dan dalam keadaan putus asa. Saya baru menyadari setelah lama hidup dalam masalah, saya jarang berintrospeksi. Bukan hanya berintrospeksi diri, tapi kaitan objek yang menyalahkan, disalahkan, dan faktor hingga masalah itu sering muncul. Intinya, saya sering lupa meng-"akumulasi"kan masalah yang muncul, dan mengapa selalu secara kontiniu terjadi.

Singkatnya, ada sebuah faktor x yang menjadi pemicu pertengkaran saya dengan papa saya. Uang. Aneh memang di dengar, tapi begitulah kenyataan yang ada. Saat ketergantungan antara uang dan kebutuhan begitu menjadi penting, uang menjadi pemicunya. Seringkali papa saya tidak memperhatikan hal-hal kecil yang harusnya secara cepat dapat saya dapatkan sehingga tak perlu berujung pada bantahan keras.

Hal itu sangatlah salah untuk dilakukan, namun hanya dengan begitu saya bisa mendapatkannya (dulu saya berpikir begitu). Hingga saya baru menyadari, bahwa kekuatan uang sebegitu besarnya. Hanya karena uang saya melepaskan jarak yang baik dengan orangtua saya. Sejak saat itulah, sebuah keputusan dibuat. 

Keputusan terbesar dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan tidak akan lagi bernegosiasi dengan uang. Saya merasakan bahwa jarak saya semakin dijauhkan oleh uang antara saya dan orangtua. Bukan lagi saatnya mengijinkan hanya karena uang hal itu terjadi. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak lagi menerima uang dari orangtua saya. Karena dengan begitu, saya tidak akan lagi bertengkar dengan beliau. Awalnya ngeri, bagaimana kehidupan saya. Namun setiap hal baik selalu ada jalan bukan? Begitulah yang saya alami. Sejak saat itu (semasa kuliah) saya sering menerima berkat melalui pekerjaan-pekerjaan yang selalu berdatangan.

***

Saya memiliki seorang teman yang sedang bermasalah dengan orangtuanya. Sejak berpacaran dengan kekasihnya, ia sangat dibenci oleh orangtuanya. Persetujuan belum dikantongi, namun ia nekad untuk menjalaninya hingga sebuah hubungan yang sangat jauh. Hingga detik ini, keduaorangtuanya masih belum mengijinkan, bahkan tidak menyapa anaknya dan kekasihnya. Menyedihkan sekali.

Melalui catatan ini, saya ingin mengatakan sebuah hal. Entah ia membacanya atau tidak. Orangtua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Kalaupun ia tak membiayaimu, mereka menghidupkanmu. Saya selalu mencibir orang yang berkata seperti itu dan tak pernah merasakan hal yang sama. Hingga suatu saat ketika saya melakukan keputusan yang sangat besar itu, saya menyadari setiap waktu yang terlalui begitu sia-sia. Saat ini, saya tak pernah bertengkar dengan kedua orangtua saya, makin hari makin menyayangi mereka.

Satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya adalah, melepaskan sesuatu hal yang menjadi batu dalam kehidupan kita. Uang adalah salah satu batu bagi saya pada masa lalu. Karena uang saya tidak pernah berdamai dengan orangtua saya. Menyedihkan. Hingga suatu saat saya menyadari kekeliruan yang luar biasa. Dan sejak saat itu, saya melepaskan itu. Seperti permasalahan sahabat saya, ketika kau sedang melakukan sesuatu hal yang menjauhkan dengan kedua orangtuamu, apakah kamu membiarkannya begitu saja? Ada sebuah pengorbanan dalam setiap keputusan, tapi akan ada sebuah hal lain akan lahir. Sesuatu hal yang sampai kapanpun tidak akan terbeli.

Jadi, apa yang menjadi "batu"mu? Just let it go.

Gambar oleh Lianggono.