Jumat, 19 Agustus 2011

CATATAN: BJ HABIBIE UNTUK ALMARHUMAH ISTRINYA


Catatan ini sangatlah bagus untuk direnungkan. Sesuatu yang sangat indah. Selamat membaca.

Kata BJ Habibie untuk Almarhumah Istrinya:

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku.

Kamis, 18 Agustus 2011

MENJADI SESUATU


Aku ingin menjadi sepasang sepatu di dalam sebuah toko yang ditunjuk seorang anak miskin itu. Berhari-hari ia lewat toko itu. Ditarik pulang ayahnya pulang karena tak dapat membelinya. Sepatu yang sederhana saja, hanya untuk dipakai sekolah karena yang lama tak dapat digunakan lagi. Setidaknya sebagai pengganti sandal jepit ber-surat ijin dari orangtua kepada guru sekolahnya, yang dipakainya beberapa hari ini.


Aku ingin menjadi sepatu yang terombang-ambing di antara batu besar sungai itu. Ditunggu beberapa ibu-ibu miskin yang menunggu di ujung sana. Dengan pengait besi penyaring sampah, mereka mengusap keringat. Setidaknya untuk dijual atau dicuci dan dipakaikan untuk suaminya bekerja.

Aku ingin menjadi sepatu menganga di kaki pelari itu. Pelari cilik ingusan harapan warga sebuah kampung kecil. Untuk merebut satu hadiah televisi mini yang diharapkan bisa tergantung di ujung pos hansip, dilihat bersama dengan secangkir teh panas. Menjadi sesuatu untuk sebuah kampung.

Aku tidak begitu ingin diinginkan. Aku hanya ingin menjadi sebuah kesempatan, keberuntungan, kehidupan bagi seseorang. Sebuah hal di dalam ketidakberuntungan dan ketidakadilan hidup. Menjadi sesuatu, sesederhana itu.


Catatan dalam sebuah perjalanan panjang, melihat sepasang sepatu tergeletak di tepi sungai Bangkok.
Agustus, 2011.
Gambar diambil oleh Daniel Liben Photography

Selasa, 09 Agustus 2011

LIANGGONO EROPA DAN LIMA ROTI DUA IKAN



Cerita ini mungkin lahir dari banyak hal yang saya alami akhir-akhir ini. Pernahkah percaya pada sebuah mimpi di saat anda tidur yang dapat menjadi kenyataan? Saya belum pernah mengalaminya. Namun saya adalah seorang pemimpi kelas kakap. Hampir setiap malam saya bermimpi, atau dalam arti 'mimpi' yang berbeda. Saya lahir dalam banyak keterbatasan. Dimana untuk mendapatkan setiap hal yang saya inginkan, saya selalu 'bermimpi'. Melalui harapan yang saya juga tidak pernah tahu mulai kapan saya percaya pada 'mimpi' itu sendiri.

Saya ingat saat berusia antara 11 atau 12 tahun dulu, pernah saya menginkan sebuah sepatu sandal. Ceritanya sederhana, karena saya melihat promo barang-barang di salah satu selebaran departement store di kota saya, salah satunya adalah sepatu sandal itu. Bahkan untuk meminta ke orangtua sayapun sangatlah susah. Namun waktu itu saya ingat begitu saya menginginkannya. Hingga akhirnya saya berharap. Singkat cerita, saya memperoleh sandal itu. Entah bagaimana, yang pasti papa saya pada akhirnya membelikannya.