Sabtu, 16 April 2011

WANITA, YANG TERDORONG DAN AKAN TETAP BERDIRI


Siang yang dingin. Seorang pria yang marah. Hentakan meja dan pukulan keras. Piring pecah. Teriakan yang memekik telinga. Begitu terekam jelas dalam benak saya hingga saat ini, siang yang mengubah segalanya. Segalanya mengenai konsep gender yang dijelaskan panjang lebar oleh guru sekolah; siapa, seperti apa, bagaimana, dan peran apa seorang perempuan/wanita itu. Ya, adegan yang tak asing dalam sebuah rumah tangga. Namun, siang itu berbeda. Bukan perkelahian yang biasa. Lemparan piring, pukulan, tangkisan, meja yang terbuang jauh, dan teriakan yang keras menjadi penanda berakhirnya kepercayaan saya terhadap seorang Ayah (kala itu), ketika menyaksikan tindakan yang tak selayaknya terlihat oleh seorang anak. Rasa takut dan keinginan untuk pulang –saat kebingungan menyamarkan sebuah rumah yang tak terasa lagi seperti rumah (untukmu).


Saat itu juga, terlihat sesosok wanita yang tangguh dan tak mau dilawan. Pukulan yang dibalas dengan tangkisan. Bukan seorang wanita yang didorong lalu jatuh ke lantai. Tetapi yang terdorong dan meneriakkan keras pembelaan. Keanggkuhan pria yang dibalas dengan uraian air mata. Bukan air mata ketakberdayaan, namun meneriakkan kebebasan dengan kelembutan seorang wanita.


Sejak siang itu, semua berubah. Wanita yang saya kenal, bukan wanita yang seperti Ismail Marzuki tulis, “..ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu.”.

Rabu, 13 April 2011

KACAMATA

 

Ini catatan singkat. Teruntuk setiap manusia dewasa yang kehilangan masa kanak. Masa kanak di kala telah dewasa, dan tak mengijinkan dirinya dilingkupi keluguan manusia kecil dan lucu seperti yang terlihat di seberang jalan itu, tertawa dan menerima segala hal dengan senyuman.

Menyapa manusia dewasa yang terlalu serius, atau yang mulai kehilangan kacamata ‘kecil’nya untuk memandang segalanya dengan kerendahan hati seperti di kala kecil tersakiti, menangis, tertidur, dan terbangun lupa apa yang telah terjadi.

Senin, 04 April 2011

TUHAN DAN SEPASANG SEPATU

 

Menuliskan sebuah catatan atau ringkasan kecil tentang Tuhan yang saya atau kita tahu sangatlah riskan. Saya sebut demikian bukan karena Tuhan yang seperti berada di tingkap langit paling atas dan terkesan tak hormat untuk dibicarakan, tetapi melalui perspektif kita masing-masing dalam memandang seperti apa Tuhan dan bagaimana konsep Tuhan yang ada dan kita percaya. Mempertanyakan Tuhan, seperti kita sedang meraba kepala lemari yang cukup tinggi, tanpa kita bisa tahu barang apa yang kita sedang atau akan kita raih. Menerka. Ya, seperti itulah.

Sebelumnya saya pernah menuliskan mengenai sebuah konsep Tuhan dengan analogi payung di sebuah hujan deras dan dapat anda lihat disini. Namun keinginan saya menuliskan ini berangkat dari kegelisahan saya dari sebuah berita yang beredar belakangan ini mengenai sebuah lagu (yang katanya) setan dari Lady Gaga yang mungkin sudah banyak anda dengar, baik melalui milis, messenger dan media lainnya. Berikut salah satu kutipan beritanya (jika terlalu panjang, baca saja secara cepat karena tak terlalu penting):