Selasa, 15 Februari 2011

BUMI DAN ARSITEK KECIL



Siapakah kita yang begitu kecil bersembunyi duduk di ketiak pohon? Tertawa manis bersama burung gereja hingga tertidur pulas dibawa nyanyian angin. Siapakah kita yang begitu kecil bila duduk di atas pangkuan bumi? Hingga tak nampak, namun pandai menggerigiti tubuh bumi.


“Siapakah kita bila dibanding dengan bumi?” Itulah pertanyaan kecil yang terlintas dalam pikiran saya. Manusia yang begitu kecil. Namun, apakah sikap dan perilakunya terhadap bumi sejalan dengan apa yang nampak?


Tidak demikian. Manusia lahir di bumi. Bersekutu dengan tanah, air, dan pelengkap bumi lain hingga dewasa yang tak pernah lepas ditemani. Keinginan manusia untuk menikmati isi bumi dengan segala ide dan kreativitas yang tak pernah puas untuk menciptakan kenyamanan hidup, tidak dibarengi dengan sikap bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam. Krisis energipun menjadi problematika yang tak terelakkan di era modern ini.


Sejalan dengan kedewasaan manusia, kita sadar bagaimana bumi ada bukan hanya untuk kita. Generasi akan terus lahir dan tak terhenti. Angka kelahiran menunjukkan populasi manusia bergerak cepat. Aktivitas bumi makin dipertanyakan. Apakah kita menjadi nenek moyang yang tak menyisakan sedikitpun kelegaan dan kenyamanan bagi anak cucu kita?