Selasa, 15 Februari 2011

BUMI DAN ARSITEK KECIL



Siapakah kita yang begitu kecil bersembunyi duduk di ketiak pohon? Tertawa manis bersama burung gereja hingga tertidur pulas dibawa nyanyian angin. Siapakah kita yang begitu kecil bila duduk di atas pangkuan bumi? Hingga tak nampak, namun pandai menggerigiti tubuh bumi.


“Siapakah kita bila dibanding dengan bumi?” Itulah pertanyaan kecil yang terlintas dalam pikiran saya. Manusia yang begitu kecil. Namun, apakah sikap dan perilakunya terhadap bumi sejalan dengan apa yang nampak?


Tidak demikian. Manusia lahir di bumi. Bersekutu dengan tanah, air, dan pelengkap bumi lain hingga dewasa yang tak pernah lepas ditemani. Keinginan manusia untuk menikmati isi bumi dengan segala ide dan kreativitas yang tak pernah puas untuk menciptakan kenyamanan hidup, tidak dibarengi dengan sikap bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam. Krisis energipun menjadi problematika yang tak terelakkan di era modern ini.


Sejalan dengan kedewasaan manusia, kita sadar bagaimana bumi ada bukan hanya untuk kita. Generasi akan terus lahir dan tak terhenti. Angka kelahiran menunjukkan populasi manusia bergerak cepat. Aktivitas bumi makin dipertanyakan. Apakah kita menjadi nenek moyang yang tak menyisakan sedikitpun kelegaan dan kenyamanan bagi anak cucu kita?



***


Sebagai salah satu pelaku seni dan desain, saya berada di tengah orang-orang yang memiliki segudang ide dengan seluruh kekreativitasannya yang terkadang keluar dari imajinasi manusia biasa. Ya, kreativitas adalah bagaimana tidak berada dalam kotak, tetapi keluar dan membuat sebuah pakem baru atau merubah pakem yang lama menjadi baru dan segar. Tetapi alasan menjadi kreatif terkadang menjadi salah satu bumerang bagi pelaku seni, dan bumi tentunya.


Banyak dari mereka yang mentransformasikan ide gila menjadi sebuah desain yang wah. Terkadang menciptakan sesuatu yang lebih, memiliki konsekuensi lebih juga. Tak dapat dipungkiri, pemborosan material atau bahan untuk menciptakan sesuatu yang wah menjadi sebuah konsekuensinya. Namun apakah harus demikian?



Dapat dibayangkan, misal saja dalam lingkup arsitektur atau interior. Sebuah desain gedung dengan banyak dinding partisi tambahan mengharuskan bahan berlipat kali ganda bertambah. Padahal, hingga material sampai ke tangan kita, perjalanan mulai dari proses produksi awal –proses pengambilan material utama, fabrikasi menjadi material siap pakai, pengepakan– hingga transportasi ke lokasi dan pemasangannya pada bangunan melalui sebuah perjalanan ribuan mil. Tidak saja dilihat dari bahan dasar yang digunakan, namun penggunaan bahan bakar baik untuk proses transportasi hingga produksinya. Bisa dibayangkan, mengapa saat ini bumi kita mengalami krisis energi?


Saya belajar dari sebuah pengalaman, yang mengubah paradigma berpikir menjadi kreatif yang berdamai dengan bumi. Good design doesn’t have to be mind-blowing or be in a crazy shape. Sebuah desain yang baguspun tak selalu melulu dengan banyaknya material yang digunakan. Eksploitasi material hanya menjadikan sebuah desain nampak tak baik. Ataupun, kreatif berarti menciptakan sebuah ruang dengan desain yang wah namun meminimalkan penggunaan bahan secara cerdas.


Salah satu contohnya adalah Donald Trump. Sang miliader Amerika yang memiliki beragam bisnis dari pertelevisian hingga real estate. Trump pernah memiliki ide untuk mengurangi biaya pembangunan gedung dengan menghemat hal-hal kecil. Idenya adalah mengurangi penggunaan engsel pada setiap pintu yang ada. Bila di bangunan mewah saat ini pintu-pintu atau jendela menggunakan 3-4 engsel, Trump memilih untuk mengurangi 1-2 engsel pada setiap pintu dan jendela. Hasilnya, pengurangan 1 engsel (dari setiap gedung mewahnya) mampu menghemat banyak biaya. Hal ini dikarenakan pengurangan engsel berdampak pula pada penggunaan paku, sekrup, cat dan waktu kerja. Selain menuntungkan secara ekonomi, kisah Trump ini juga salah satu cara cerdas untuk meminimalkan penggunaan energi yang ada.


Satu lagi cerita inspirasi yang saya temui sendiri. Pernah beberapa bulan lalu, saya mengunjungi sebuah rumah salah satu dosen kampus saya yang adalah seorang arsitek. Saat memasuki rumahnya, desainnya cukup wah. Namun begitu kagetnya saya saat mengamati lebih jeli, bahwa setiap pintu pada rumahnya dipasang tanpa menggunakan kusen. Sangat mengesankan. Pemasangan engsel dan handle langsung diaplikasikan ke dalam dinding. Dan terbukti hasilnya pun menarik. Bayangkan, berapa bilah kayu yang dihemat dengan tak menggunakannya sebagai kusen pintu?


***


Setiap aspek kehidupan kita tak dapat dijauhkan dari lingkungan. Kita bangun di pagi hari, menghirup udara dan mendapati kita masih berpijak di atas tanah. Disinilah kita bertumbuh hingga menjadi sosok manusia dewasa. Bagaimana dengan anak cucu kita? Masihkah mereka dapat merasakan bumi yang kita tahu saat ini? Ataukah bumi yang mereka tahu nantinya, sudah bukan bumi yang kita lihat sekarang, namun bumi yang keruh dan membuat mereka berjuang keras untuk tinggal di dalamnya.


Konsumsi seminimal mungkin nyatanya akan menjadi salah satu kunci utama untuk menciptakan bumi yang lebih baik. Di saat sumber daya alam tak terbarukan mengalami krisis, di saat inilah kita harus mulai bersikap bijak dan cerdas. Tidak hanya dalam ranah seni dan desain, namun dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Consume less atau meminimalkan apapun yang kita gunakan harus mulai digalakkan; saat kita membutuhkan kertas, tissue, kantong plastik, penggunaan listrik dan air, hingga hal kecil lainnya.


Menjadi kreatif itu tak terbatas, namun ketakterbatasannya tinggal dalam ranah untuk bersikap secara arif dan bijaksana dalam menghargai bumi tempat kita berteduh untuk manusia yang kecil - yang tak dapat merengkuhnya, namun dapat duduk saling menjaga.

Pustaka | Sebastian, Yoris. Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2010. 
Gambar| http://nohaycomolodeuno.blogspot.com/2009_11_01_archive.html

2 komentar:

abu4faqih mengatakan...

Selamat ya, juara 2 beatblog writing contest :D
Tapi koq adem ayem aja ya, gak ada posting terkait? Kesan-pesan mungkin ... :)

Lianggono mengatakan...

Haha, iya makasih yaaaaa :) so happy indeed :) pinginnya sih nulis tapi lagi repot banget, soon yah :D