Minggu, 15 Agustus 2010

INDONESIA, DALAM WAJAH JAMAN (SOSIAL MEDIA)



Seperti sebuah bola yang menggelinding-melesat cepat dari dataran miring puncak gunung, sosial media menjadi rangkaian cerita anak jaman yang berlari makin gesit bernama perubahan.

Inilah wajah baru dunia kita. Dengan gen tekno atau yang berkesan robotik, atau yang banyak dikata sudah tidak lagi manusiawi. Inilah persepsi yang beredar dalam masyarakat sosial kita. Twitter, Facebook, Blog, Koprol, dan sebagainya menjadi serangkaian benda bernyawa dengan berjuta komunitasnya. Lalu, pantaskah sosial media ini menjadi langkah tajam bagi kita untuk bermasyarakat?


Dalam sebuah bincang singkat saya dengan seorang teman dalam sebuah chatting:
S: Oh ya, twitter mu apa?
T: Oh nggak ada, nggak suka main begituan..

Dan maaf beribu maaf, saya hanya bisa berkoar dalam hati saya, Twitter bukanlah label ‘mainan’ seperti yang dikatakannya. Twitter merupakan sebuah contoh sosial media dari sekian banyaknya yang berarti sebuah jejaring tempat manusia biasa seperti kita (bukan brand) berinteraksi bersama. Berwajah polos, berdiskusi ringan, bercakap spontan, dan berpikir sahaja. Itulah yang ada, bukan perkumpulan kaku untuk kita saling berbohong, lebih kurang istilah ‘cericit’ pantas mewakilkannya. Mengatakan apa yang perlu kita katakan.

Sebuah brand yang ada dewasa ini masih kaku dengan membawa jiwa korporatnya ke dalam massa. Masyarakat kita saat ini menuntutnya untuk lebih ‘ramah’ dengan mereka. Tidak kaku, apa adanya. Sederhananya, mengajak main bersama. Melepas jubah kekorporatifannya, dan berdamping sejajar untuk dapat diterima secara memasyarakat. Dan dengan begitu brand mulai dihargai, dan inilah yang ada sekarang, brand juga ikut terjun dalam sosial media.

Dan bagaimana ketika kita terjun dan menjadi bagian dari brand? Bukankah sebenarnya kita sedang mempresentasikan diri kita ke masyarakat luas bak brand? Kita menulis apa yang kita yakini, dan mempublikasikannya. Kadang ada banyak dari kita yang lupakan bahwa ini jaringan luas yang berarti apa yang kita sajikan adalah konsumsi untuk banyak orang?

Saat ini yang menjadi pertanyaan untuk kita sendiri adalah, maukah kita berwajah robot namun tetap tak meninggalkan kesahajaan kita sebagai manusia yang utuh? Maukah kita memiliki kesederhanaan manusia kita dan menjelmakannya ke dalam jejaring teknologi dan berbagi dengan sebagaimana kita harus berbagi? Inilah wajah yang baru dan mau tak mau harus kita sambut. Bukan masalah jaman yang harus kita iring, tetapi inilah tempat dimana semua orang saat ini sedang berkumpul dan berkomunitas. Dengan bertingkah benar, sebenarnya kita sedang meluaskan jaringan kita untuk tampil lebih utuh dan jujur dan saling berbagi. Sesederhana itu.


Seperti seorang anak kecil Indonesia bernama, Evita Nuh. Bagi saya, ialah sosok kecil yang bisa berbagi dengan benar dan bersahaja. Dalam usianya yang masih 11 tahun, ‘Cha-cha’ sapaan akrabnya menyamarkan usianya dalam komunitas luas yang berwajah keriput terlebih dahulu. Dengan perkembangan yang sedemikian, cha-cha mampu bertahan dalam arus jaman dan menjadi sesosok kecil di tengah arus namun berpengaruh.



Berawal dari kegemarannya dalam bidang fashion dan fotografi, ia menuangkan catatan-catatan yang sederhana dengan maksud berbagi akan taste yang ia miliki, namun dengan sendirinya blog yang ia miliki menjelma menjadi sebuah blog yang ajaib dan dinantikan banyak orang. Seseorang anak kecil yang masuk dalam sosial media dan dapat berpengaruh.

Inilah sesosok lain Indonesia yang mencengangkan. Sayapun disini ketika awal mengetahuinya, saya hanya bisa menggelengkan kepala karena dunia teknologi sekarang tidak hanya menghantarkan sajian yang banyak dikata orang berimbas negatif, lebih daripada itu, inilah yang dapat dikata sebuah sajian sosial media yang sangat cerkas dan menghantarkan manusia dengan kesehajaannya untuk tampil dengan baik dan berpengaruh bagi masyarakat.

Toh hingga saat ini, Cha-cha hanya salah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang dapat menata dan menginterpretasikan sosial media secara benar. Yang mengekspresikan dunia ini dengan caranya sendiri. Sebuah kesahajaan dan kejujuran yang berpengaruh bagi kita dan sosial.

Dalam sebuah biodatanya Cha-cha menulis: "My favorite book: Disney dictionary, Nylon magazine, Paper Magazine, Go girl, Girlfriend. I'm not reading it by the way, just see the picture.."

Yah, itulah yang ia katakan dalam bumi media kita ini. Dan hal itu mengajarkan kita bagaimana hidup mengikuti bola jaman ini dengan bersahaja dan memperluas pengetahuan kita dalam konteks sosial. Siapkah anda bersahaja dalam wajah jaman saat ini? Siapkah anda menjadi sesosok Indonesia yang patut dibanggakan? Bukan hanya menuntut, tapi ikut turut.


Selamat ulang tahun Indonesia, untuk kau yang selalu mengcengangkan :)

Gambar diambil dari blog Evita Nuh: http://jellyjellybeans.blogspot.com/

4 komentar:

Anonim mengatakan...

I like it, u wrote amazing. Good thought!

~ jessie ~ mengatakan...

Cool posting! Love it.
Jadi twittermu apa? ;p

Liang Su mengatakan...

Twit ku @lianggono dong :)))

ika~~ mengatakan...

shes cool!
adore her much :)