Rabu, 29 Juli 2009

MENGHILANGNYAMU

Dalam sebuah senggang malam ini,
kuajak lamunku berandai sesekali.

Kalaupun harus aku kehilangan dirimu,
kuharapkan saja kau pergi hanya dalam sebuah permainan singkat cari mencari.
Sesingkat kau bersembunyi di balik badan pintu kamarmu.
Yang satu menit kuberikan kau waktu untuk pergi,
agar sesegera aku dapat lari mencari.

Bukan dalam sebuah jarak waktu yang panjang.
Tidak untuk seminggu waktu tamasya yang lama.

Untuk sesingkat kumemejamkan mataku,
lebih-lebih itu yang kubayangkan untukmu.
Sesingkat refleks kedip manusia biasa sepertiku.
Dalam hitungan detik, atau bahkan miliperdetik hidupku.

Karena untuk menghilangnyamu,
aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya hampaku.


untuk kau yang sesaat tak ada bagiku.

Kamis, 23 Juli 2009

DELMAN TUA

Doakan aku, ayahku.


Doakan anakmu ini yang bukan siapa-siapa.
Mengucap sajak diantara kawanan orang.
Menuntut hak delman yang mangkrak di garasi tua,
yang ingat kududuki saat masa kanak
menemanimu main ke kota.

Sekarang, delman itu sudah tak istimewa.
Sudah keriput dan menua wajahnya.
Tak pernah dinaiki anak-anak,
yang sekedar main ataupun minta diantar pulang.
Delman itu menanti dipoles ulang dengan ramuan tuannya,
agar tulang menjadi tak rapuh dan sendinya melaju gagah
mengantar semua ayah bersama anaknya main ke kota.

Kusirnyapun semakin tua.
Duduk di beranda gubuk desa.
Main seruling sambil menawari burung gereja
untuk cicipi padi di atas kulit tipis telapak tangannya.

Kudanya sakit manja.
Tangannya melipat manis ke depan,
dengan mata tertutup besi
mencoba berkedip menggoda delman tua.
Besinya goyang-goyang,
berharap delman melihat gerak centilnya.

Delman hanya tersenyum simpul,
katanya harus sabar menunggu anak-anak datang.

Biarkan sajakku menari di depan kawanan anak,
mengajaknya datang membesuk delman tua.
Menghibur bersama agar ketawa,
dan diantarnya mereka hari minggu ke kota.

Biar sampai mulut berbusa,
asal aku dan sajak dapat menggiring delman keluar
menyapa ayah dan anak main bersama.
Tuk tik tak tik tuk..
Suara sepatu kuda.


Selamat untuk semua anak di Indonesia.
Selamat merayakan hari besarmu, di hari anak nasional.
Rayakan dengan nyanyian seperti ayahmu dulu mengajarkanmu,
bukan lagu yang (belum) wajar kau dendang sendiri untukmu.

Minggu, 19 Juli 2009

{tanpa judul}

Yang dalam ketakutan,
seperti sesal pohon telah disirami
hingga dewasa tak dapat lincah menari;
seperti matahari menggantung saat senja,
sesal telah menyapa bumi;
seperti sesal dewi main di telaga murni,
selendang wangi dicuri pergi.


Untuk segala ketakutan malam ini.

Senin, 06 Juli 2009

SEORANG IBU



Sedari beberapa hari lalu, saya dibawa dalam sebuah aktivitas yang cukup padat - terlibat dalam sebuah pameran sekolah musik milik kawan saya; sebuah aktivitas yang sangat menguntungkan di tengah jenuh sela liburan panjang ini. Beberapa kawan lain juga ikut berpartisipasi didalamnya.


Usaha ini sendiri telah dibangunnya semenjak empat tahun lalu, dan bagi saya hal ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang sangat matang dalam pembangunan masa depan keluarga mereka. Tepatnya, esok hari sang istri akan memberikannya keturunan. Memang, kelahiran anak pertama mereka ini dijadwalkan dalam sebuah operasi cesar.