Kau datang pada siangku,
ketika hari dan dirimu kusebut: minggu.
Kau minggu yang abnormal untukku.
Kita yang duduk selingkar dengan sebulat donat
dan segelas segar teh hijau.
Sesekali bermain tawa kecil,
sesekali beradu senyum.
Kau minggu yang penuh nada untukku.
Kau minggu yang manis dan tak sepi,
minggu yang membuka telinga
dari keramaian pikiranku.
Kau menyambung nyawaku hari itu.
Hampir saja aku tertidur berdiri ditengah jalan
yang mungkin akan menjadi hal teraneh bagi semua orang.
Namun kau yang menyambung setiap detik sarafku,
yang membuat pelipit mataku terbuka tetap
dan tertawa bersamamu.
Seringkali kau berbohong padaku
yang tak berkata lelah sekalipun,
hingga kumendapatimu menguap di depanku.
Kau minggu yang kucari selama ini.
Minggu yang tak hanya merayakan istirahat seminggu lelahku.
Kau minggu sebelum sabtu yang tertunggu
di depan hari yang hampir menjengukku.
Kau yang kusebut dengan: minggu.
Maukah kau membuat
seninku, selasaku, rabu, kamis, jumat dan sabtuku
seperti mingguku ini?
Aku ingin duduk,
dan tersimpul manis denganmu.
Catatan di sebuah minggu bersamamu

