Minggu, 04 Januari 2009


KEZIA NAIK TIANG LISTRIK!

Reuni semalam membawa saya pada
sebuah pertemuan pendek dengan kezia.

Kezia.
Perempuan lugu itu sudah gede ternyata.
Sudah bisa pakai sepatu tinggi,
menari disko kecilpun lincah.

Kabarnya, sudah tunangan dengan lelaki impiannya.
Pulangnya pun malam-malam.
Sudah bisa cari duit berdua ternyata. Mau kawin.

“Oh, pantas.”
Kemarin saya lihat dia main-main di ujung perumahan.
Di dekatnya ada tiang listrik berkabel ruet.
Tanpa alas kaki, ia mencoba menarik tubuhnya ke atas.
Sepertinya licin.
“Kez, nggak pakai tangga?”
Nanti saja, belum beli.
“Kenapa?”
Mahal. Cari duit dulu.

Dan Keziapun terjatuh.
Naik lagi.
Jatuh lagi dan berdarah (kali ini).
Kezia terbangun. Oh, ternyata mimpi.
Dilihatnyalah sebuah tulisan di seberang ranjangnya.
Merah menyala tertulis dari gincu.
“KEZ, HATI-HATI KESETRUM!”
Dan kecup bibir mengakhiri pesan itu.


***

Sabtu, 03 Januari 2009

HARI YANG BIASA SAJA, DI JANUARI YANG BARU.
Entah mengapa, tiga hari yang lalu tepat pada saat pergantian tahun menuju 2009, serasa begitu aneh bagi saya. Atau kata lain apalah yang dapat menjabarkan hari itu: biasa saja. Tidak ada rasa senang atau uforia apapun yang (biasanya) terasa pada saat tahun akan berganti.

Tiga puluh satu Desember pagi saat terbangun, saya menulis pada sebuah buku yang baru saja saya beli. Menulis apapun yang saya rasakan sewaktu saya terbangun di pagi hari, dengan sebuah harapan saya akan menulis sebuah mantra harian yang spontan dan dapat menjadi penuntun saya dari hari ke hari. Dan bergeraklah saya menuju nakas tumpuk di seberang kasur sana, dan menyahut buku bertuliskan Enjoy your holiday itu.

Singkat kata, tulisan dengan hanya berisikan beberapa baris itu saya sudahi. Pada ujung kertas tersebut –sambil melihat kalender di atas nakas– saya akhiri dengan menulis jam dan tanggal hari itu.

Pk. 09.24, 31 Desember 2008
Di hari pertama aku memutuskan untuk melupakannya.